Wadah berbagi Kisah, Pengetahuan, Ungkapan rasa, Cerita, dalam rangka memperkaya khasanah Iman untuk menggapai Syafa'at Baginda Rasululloh serta Hidayah dan Ridlo Illahi Robbi

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

9.21.2011

Obat Kangen


Bagi Panjenengan para Sami'in setia, dan para pecinta Sema'an & Dzikrul Ghofillin, semoga video yang kami tampilkan ini bisa menjadi pengobat rindu, bagi yang belum faham atau hanya mendengar tentang Beliau, moga-moga dengan tayangan ini, jadi lebih merasa dekat dengan panjenenganipun khadratus Syaikh Hamim Jazuli atau yang lebih dikenal dengan Gus Miek
Share:

7.22.2011

InsyaALLAH ( maknanya yang dalam )



Lagu Maher Zain "Insya Allah" (feat. Fadly Padi)

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh

Bertahan terus berharap
Allah selalu di sisimu

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan

Every time you commit one more mistake
You feel you can’t repent and that it’s way too late
You’re so confused wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

But don’t despair and never lose hope
’Cause Allah is always by your side

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah you’ll find a way

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan

Turn to Allah He’s never far away
Put your trust in Him, raise your hands and pray
Oh Ya Allah tuntun langkahku di jalanmu
Hanya engkaulah pelitaku
Tuntun aku di jalanmu selamanya

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah we’ll find our way
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah we’ll find our way

Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah we’ll find our way
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah we’ll find our way
Share:

12.08.2010

Selamat Tahun Baru Islam 1432 H



“Alhamdulillahirobbil’alamin…( Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam ).” Tanpa terasa, lembar demi lembar tahun telah kita lalui, hingga memasuki tahun baru 1432 H ini. Telah banyak perbuatan yang kita lakukan, telah bertumpuk tingkah yang telah kita torehkan dan telah pula tak terhitung kesenangan yang kita nikmati. Terimakasih yaa… Rabb atas indahnya hidup ini dan atas nikmat yang telah engkau berikan kepadaku.

Namun Yaa... Rabb…, telah banyak pula kesalahan yang telah kami lakukan, telah banyak perbuatan yang tanpa manfaat kita jalankan, telah banyak pula dosa – dosa yang tanpa kami sadari dan kami sadari, telah kita lakukan. Hanya kebesaranMu dan Kasih SayangMu yang bisa menyejukkan hati ini Ya.. Rabb…, tuk senantiasa mau duduk bersimpuh dan sujud mengharap Ridlo serta ampunanMu, Karena hanya Engkaulah Yaa.. Rabb… yang bisa menjaga segala langkah sesat kami, prasangka salah kami, dan perbuatan yang mengantarkan kami kearah nerakaMU.

Pangeran …Panjenengan… dandosi kulo niki
Lahir batin sarana… manah sae kang Suci.


Saudaraku...

Hari ini 1 Muharram 1432 H adalah tahun baru bagi umat Islam. Momentum tahun baru Hijriah ini harus kita jadikan sebagai sarana “hijrah dan instropeksi” menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam Islam disebutkan: ” Haasibuu qobla antuhaasabuu. Yang artinya hitunglah dirimu sebelum kamu sekalian dihitung(hisab)”.

Sebagai rasa syukur maka sebaiknya kita sebagai muslim yang taat memanfaatkan tahun baru ini sebagai sarana menginstropeksi diri, mengevaluasi diri, bermuhasabah atas segala perencanaan, perbuatan dan program hidup yang telah dilakukan di tahun sebelumnya, jadikan saat-saat seperti ini sebagai momen yang tepat bagi kita untuk selalu berkaca diri tentang amal-ibadah apa yang sudah kita capai dan hal apa saja yang masih kurang dalam diri kita. Sehingga nantinya bisa memperbaiki dan memperbaharui kekurangan-kekurangan kita di masa depan dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan untuk tidak kita ulangi lagi.

Allah menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai senda gurau dan permainan belaka. Sementara kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang sebenarnya. Artinya, Allah mengkondisikan kita untuk memandang dunia dengan santai tidak terlalu serius. Karena di dunia ini tidak ada keadaan yang benar-benar bisa dikatakan bahagia atau sebaliknya sedih. Di dunia ini tidak ada keberhasilan hakiki maupun kegagalan sejati. Segala sesuatu di dunia ini bersifat fana alias sementara. Kadang seseorang bahagia kadang seseorang sedih. Kadang ia berhasil kadang ia gagal. Itulah dunia dengan segala tabiat sementaranya.

Sebaliknya dengan kehidupan dunia, kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati. Tidak ada orang berbahagia di akhirat untuk jangka waktu singkat saja. Dan tidak ada pula yang mengalami penderitaan sementara saja, kecuali Allah menghendaki selain itu.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang kehidupan akhirat dengan penuh kesungguhan karena di sanalah kehidupan sejati akan dijalani manusia. Sedangkan terhadap dunia Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional saja dan tidak terlampau memaksa dalam meraih keberhasilannya. Sebab kehidupan dunia ini Allah ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main dan bersenda-gurau.

Namun dalam kehidupan kita dewasa ini kebanyakan orang malah sangat serius bila menyangkut urusan kehidupan dunia. Mereka siap mengerahkan tenaga, fikiran, dana dan waktu sepenuh hati serta jiwa untuk menggapai keberhasilan duniawinya. Sedangkan bila menyangkut urusan akhirat mereka hanya mengerahkan tenaga dan waktu yang tersisa, fikiran sampingan serta dana berupa recehan. Jika hal ini terjadi kepada kaum kafir alias tidak beriman kita tentu bisa maklumi. Tapi di dalam zaman penuh fitnah ini tidak sedikit saudara muslim yang kita saksikan bertingkah dan berpacu merebut dunia laksana kaum kafir. Allah memang menggambarkan bahwa kaum yang tidak beriman sangat peduli dan faham akan sisi material kehidupan dunia ini. Namun mereka lalai dan tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kehidupan akhirat.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7)

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat nanti manusia akan menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia menikmati kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu.

Saat manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya kehidupan di sana. Kesenangannya hakiki dan penderitaannya sejati. Surga bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu pula dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu kala. Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan deskripsi yang sangat kontras dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat pengalaman hidup di dunia yang menipu dengan kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di bawah ini:

“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia yang saat itu menjadi penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia yang menghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

Mengapa orang pertama ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah paksa dia merasakan derita sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau merasakan suatu kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah izinkan dia merasakan kesenangan hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Subhanallah walhamdulillah wal'aa ilaha illallah wallahu akbar, walahaula wala quwata illa billah...!!!

Saudaraku, sungguh kehidupan dunia ini sangat tidak pantas kita jadikan ajang perebutan dan perlombaan. Sebab menang di dunia pada hakikatnya hanyalah menang yang menipu. Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia hanyalah kalah yang menipu. Saat manusia diperlihatkan surga dan neraka di akhirat kelak, sadarlah ia betapa naifnya perlombaan merebut keberhasilan dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan hakiki dan abadi surga yang jauh labih patut ia kejar dan usahakan semaksimal mungkin. Sadarlah ia betapa lugunya ia saat di dunia berusaha mengelak dari segala derita dan kesusahan dunia jika dibandingkan dengan derita sejati dan lestari neraka yang jauh lebih pantas ia berusaha mengelak dan menjauh darinya.

Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

Ya Allah…, janganlah Engkau jadikan dunia puncak cita-cita kami dan batas pengetahuan kami.

Ya Allah… yang Maha Kasih, jangan Kau ciptakan manusia sepertiku, dengan penuh kemuliaan, tetapi kujalani hidupku dengan kenistaan.

Ya Allah… yang Maha Pengampun, jangan biarkan aku terlena oleh kenikamatan dunia namun setelahnya aku jatuh terpuruk ke dalam kenikmatan maksiat dan penuh dosa...

Ya Allah… yang Maha Besar, gugahlah kesadaranku untuk selalu beribadah kepadaMU, sehingga saat terdengar adzan diserukan bisa tersentuh hatiku untuk selalu memenuhi panggilanMu, dan jagalah diriku untuk tidak selalu menunda sholatku dengan menyibukkan diri dengan urusan diniawi, lebih mementingkan pekerjaanku, menonton acara TV kesukaanku dan pulas tidur saat subuh tiba.

Ya Allah… yang Maha Pemurah, permudahlah keikhlasanku untuk melakukan bersedekah, lapangkanlah sesuatu yang memberatkan dalam hati, dan masih berpikir –pikir untuk memilih-milih lembaran uang yang akan di shodaqohkan, padahal rejekiku itu sudah Engkau cukupkan dan gantikan untukku.

Ya Allah… yang Maha pemberi Berkah, gerakkanlah hatiku untuk senantiasa mengumandangkan Tilawah, agar jalan hidupku senantiasa terjaga oleh berkah Ayat – ayat Suci Al Qur'anMU yang kualunkan hingga akhir waktu.

Ya Allah… yang Maha Rahim, ampunilah segala dosa dan kesalahanku, belum cukup rasanya aku berbakti kepada Ayah dan bundaku tercinta, karena hingga saat ini aku belum dapat membuat mereka bahagia dan membuat senang hatinya, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar saja masih bisa terlupakan, yang ada memikirkan kesibukan sendiri.

Ya Allah… yang Maha memberikan Kemuliaan, jagalah diriku selalu untuk tidak membuat kecewa istriku, suamiku, anak-anakku, saudara-saudaraku, orang – orang yang kucintai, yang sangat kusayangi, yang hingga saat ini belum bisa kupenuhi bahkan kadang terlupakan kalau sebenarnya masih ada yang membutuhkan bantuanku.

Ya Allah... aku memang tidak semulia pada saat Engkau ciptakan, tetapi apakah aku masih dapat Engkau berikan kesempatan untuk terus berusaha mendapatkan kemuliaan itu kembali dihadapanMu sampai di akhir hidupku?

Ya Allah berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diriku ini, berikan aku kesempatan untuk lebih mendekatkan diriku padaMU. Ya Rabbi... berikan aku petunjuk agar aku selalu berada pada jalanMu yang engkau ridloi. Gerakkanlah hatiku untuk selalu berusaha merubah segala sikap, sifat dan perbuatanku yang telah salah selama ini, kepada orang-orang terdekatku, terutama mereka yang sangat aku kasihi, aku cintai dan aku sayangi.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, hanya kepada Engkau hamba memohon ampun, memohon pertolongan dan mohon kekuatan, semoga ditahun baru hijriyah 1432H ini hamba bisa jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, bimbinglah selalu… agar kami bisa menapaki hari demi hari berikutnya, dan dengan ijinMu ya Allah jadikanlah hari-hari hamba ini akan terus semakin lebih baik dan bisa menjadi yang terbaik dalam hidup hamba.

Amiiin… Amiiin... Amiiin… Ya Robbal ‘Alamin.

Selamat Tahun Baru 1432 H.
Share:

10.27.2010

Hikmah dari burung Beo



Sebuah kisah tentang seekor burung Beo yang dipelihara oleh seorang ulama (Kyai) di sebuah pesantren. Sang Kyai mengajari burung Beonya itu mengucapkan kalimat sapaan-sapaan islami termasuk kalimat Thoyyibah. Dan si Beo pun sangat familiar sekali mendengarkan dan mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, karena dia memang berada dilingkungan pesantren yang sangat islami, jauh dari mendengar perkataan-perkataan yang tidak senonoh.

Pada suatu ketika, sang Kyai lupa menutup kandang Beo tersebut setelah selesai memberi makan si Beo, dan tanpa disadari oleh Beliau ada seekor kucing telah mengintai si Beo tersebut. Dan si kucing pun dengan bebas menerobos masuk kandangnya dan mengigit si Beo tersebut dan memakannya.

Dalam ketakutan, kesakitan dan tidak bisa berdaya tersebut, si Beo itu hanya bisa berteriak "Keak....keak... keak..." hingga suaranya terdengar oleh sang kyai. Beliau segera bergegas menuju suara tersebut, dan sesampainya dikandang, dilihatnya si Beo telah mati digigit oleh sang kucing keluar dari kandangnya.

Sejenak sak Kyai terpekur melihat kejadian tersebut dan menangis sejadinya, kemudian Beliau begegas masuk kamar nya dan mengunci diri hingga beberapa hari. Para santri pun heran kenapa sang kyai berbuat seperti itu, begitu sedihnya ditinggal mati beonya ?. Padahal selama ini Beliau selalu bertutur bahwa musibah, malapetaka dan kematian itu hanya Allah lah yang mengatur, kita sebagai hambanya harus senantiasa bertawakal kepadaNYA.

Ditengah ketidakpastian tersebut, para santri berembuk dan merekapun setuju untuk mengirim seorang utusan, menemui kyai nya untuk bertanya apa sebenarnya yang disedihkan oleh Kyai tersebut, masak hanya karena ditinggal mati oleh si Beo tersebut sang Kyai jadi amat sangat bersedih sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar pada mereka.

Begitu utusan tersebut diperbolehkan menghadap, utusan tersebut dengan santun dan rasa hormat menyampaikan uneg-unegnya "Pak Kyai.... sebelumnya kami memohon maaf jika pertanyaan kami dianggap lancang, namun kami juga bersedih jika Kyai mengurung diri terus di kamar dan tidak lagi mengajarkan ilmu kepada kami, jika kami boleh tahu.. apa sebenarnya yang menyebabkan pak Kyai begitu sangat bersedih.., kalau itu dikarenakan matinya si Beo, kami semua sanggup membelikan puluhan beo-beo lain untuk Pak Kyai, sehingga Pak Kyai dapat menghilangkan kesedihan dan mengajar kami kembali".

Seraya menghirup napas dalam-dalam, sang Kyai menjawab: "Santri - santriku tercinta... bukan kematian Beo itu yang sangat aku sedihkan, tetapi hikmah dari Allah SWT. yang terkandung dalam peristiwa itu yang membuat aku sangat ketakutan".

"Hikmah apakah yang Pak Kyai maksudkan ? " sambung para santri serempak.

"Si Beo yang berada di lingkungan kita ini, insya Allah tidak pernah melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, apalagi maksiat. Bahkan telah aku ajarkan pada Beo itu kata-kata yang baik khususnya kalimat Thoyyibah, tetapi ketika ia meregang nyawa, dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun kalimat tersebut, selain hanya suara "keak...keak.." yang kudengarkan dari mulutnya.

Dari peristiwa tersebut aku jadi berfikir, dan yang membuatku bersedih adalah bagaimana dengan nasibku dan kalian-kalian semua, apakah sama dengan nasib si Beo tersebut. Meskipun hampir setiap nafas kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik, termasuk kalimat Thoyyibah, tetapi dapatkah kita menjamin bahwa kita nanti mampu mengucap ”LA ILAHA ILLALLAH” ketika sang malaikat maut menjemput kita ???
Wallahualam

Semoga sepenggal kisah diatas bisa dijadikan renungan bagi kita ..... (Limyei)
Share:

9.24.2010

Taqwa merupakan Kunci Sukses dan Kejayaan

Minal Aidzin Wal Faidzin, Kami sekeluarga menghaturkan Mohon Ma'af Lahir dan Batin, semoga segala amal ibadah kita selama Ramadhan senatiasa mendapatkan Ampunan, Ridlo dan Rahmat dari Allah SWT., dan ditambahkan pada kita derajat Taqwa

Kami juga mohon ma'af sebesar - besarnya karena selama puasa Ramadhan kami belum bisa hadir untuk menemani panjenengan semua. Berkaitan dengan "Taqwa" ulasan Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas berikut ini, yang menyatakan bahwa Taqwa merupakan kunci sukses dan kejayaan dunia, patut diperhatikan, Semoga artikel berikut ini bermanfaat.




Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas


Rizqi yang Berkah

Allah SWT berfirman, ‘Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.’ – QS An-Naba (78): 10-11.

Allah SWT telah menjadikan siang hari untuk mencari nafkah, sedangkan malam hari untuk istirahat. Allah memberikan jalan kepada kita untuk mencari nafkah, tapi jangan lupa kaidah untuk mencari nafkah, karena sering kali kita menomor sepuluhkan Allah pada saat berurusan dengan urusan duniawi kita.

“Dalam kehidupan seperti saat ini yang penuh dengan ujian, kesulitan, kesusahan, baik yang dialami oleh individu maupun masyarakat nasional, banyak menimbulkan rasa kegelisahan terkadang keputusasaan, bahkan hingga melahirkan rasa iri, dengki, dan akhirnya membawa kepada perbuatan menghalalkan segala cara.

Saat ini banyak muslim yang terkadang sudah bosen menjadi orang Islam. Bila dulu, setelah ashar maupun maghrib, anak-anak sudah duduk rapi untuk mengaji atau pergi ke mushalla, saat ini maghrib hingga isya, anak belum pulang tidak ada masalah.

Kenapa bisa kita sebut bosen dengan Islam! Karena dalam keseharian kita sudah melupakan dan tidak menggunakan tata cara kehidupan yang Islami. Ibadah diabaikan, shalat ditinggalkan, mengaji dilupakan. Pulang kerja langsung nonton bola, jam tiga pagi masih di depan bola, padahal belum shalat Isya, lalu ketiduran, shalat Subuh pun lewat, setelah itu bangun dan langsung bekerja. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan lebih penting daripada Allah SWT. Akibatnya, tidak ada lagi keberkahan pada apa yang kita cari dan kita dapatkan.

“Allah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari nafkah dan malam sebagai waktu untuk beristirahat. Pada malam hari ada sesuatu yang paling indah, yaitu masa untuk mendekatkan diri kepada Allah, terutama di saat kebanyakan manusia lelap tertidur. Kita bangun untuk mengadu dan bermunajat kepada Allah. Maknanya, bila seseorang menggunakan semua waktunya, siang dan malam, untuk mencari materi, akan hilang keberkahannya. Materi boleh semakin bertambah, tapi keberkahan hilang dari kehidupannya.”

Allah SWT berfirman, ‘barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” – QS Ath-Thalaq (65): 2-3.

Ayat ini memberikan petunjuk bagi setiap umat Rasulullah SAW. Dalam keseharian, seorang muslim bergaul sebagai insan biasa, namun di saat Allah memanggil, ia tampil paling pertama untuk menunaikannya.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyususun Ratib Al-Haddad dan al-Wird al-Lathif, berkata, ‘Dunia bukanlah merupakan tanah airmu, melainkan hanyalah persinggahan untuk menuju negeri yang sebenarnya (akhirat).’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman.’ Tanah air kita yang sebenarnya adalah akhirat, sehingga makna hadits ini adalah agar kita selalu merindukan negeri akhirat, karena dunia ini bukanlah negeri kita. Nabi Adam oleh Allah diciptakan di surga lalu turun ke bumi. Itulah yang membuktikan, bahwa bumi ini bukanlah negeri kita.

Taqwa kunci Sukses dan Jaya

Berikut adalah contoh cerita yang bisa kita ambil pelajaran dari ketaqwaan orang-orang pilihan Allah.

Pada sa’at Al-Habib Syech Abu Bakar bin Salim, sedang menjelaskan tentang makna surat Ath-Thalaq: 2-3, ada dua orang jama’ah nyeletuk di belakang, ‘Apa memang itu bener Syech ?’

Lalu Habib Syech berkata kepada salah seorang muridnya, ‘Hai muridku, di belakang ada 40 karung kurma yang paling jelek di Hadramaut, yang nilainya tidak lebih dari empat dinar. Juallah kurma itu ke Irak, dan juallah satu butir kurma seharga satu dinar dan jangan kurang dari satu dinar per butirnya. Aku ingin membuktikan bahwa janji Allah itu benar.’

Selama dalam perjalanan murid-murid Habib Syech terus dilanda kebingungan dan keheranan. Bagaimana mungkin kurma yang paling buruk akan dijual satu dinar per butir, sementara kurma Irak saja, yang bagus harganya satu dinar per kilonya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa lama, murid-murid Habib Syech tiba di suatu daerah di Irak. Ternyata daerah tersebut tengah dilanda wabah penyakit yang ganas. Tiba-tiba datang seorang anak kecil, yang menderita penyakit, yang sedang mewabah di daerah itu, menghampiri mereka dan melihat-lihat kurma yang ada di karung. Karena merasa tertarik, ia pun meminta kurma yang ada di karung.

Sebutir kurma dikeluarkan dan diberikan kepada anak tadi. Subhanallah, dengan izin Allah, beberapa saat kemudian anak itu sembuh dari penyakitnya.

Karena begitu gembira, anak itu pun berlari-lari di pasar sembari meneriakkan bahwa ada kurma yang dapat menyembuhkan penyakitnya.

Tidak lama kemudian orang-orang datang berduyun-duyun untuk membeli kurma tersebut. Namun sebelumnya murid-murid Habib Syech menjelaskan, bahwa kurma itu hanya dijual dengan harga satu dinar per butir. Namun meski dihargai dengan harga yang tidak wajar, mereka berebut untuk membelinya, hingga tak berapa lama kurma-kurma itu pun telah habis terjual seluruhnya, sementara murid-murid Habib Syech hanya terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut, demikianlah karamah Habib Syech.

Setelah rombongan pembawa kurma kembali ke Hadramaut dengan membawa hasil dagangan yang sangat besar, Habib Syech berkata, ‘Inilah janji Allah kepadaku. Sekarang bagikanlah!’

Demikianlah karena kekuatan keyakinan Habib Syech kepada Allah SWT. Maka Allah buktikan janji-Nya. Bagaimana dengan kita yang hanya selalu bisa mengucapkan tetapi tidak melakukan. Dalam setiap shalat, pasti kita baca, ‘Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).’ Tapi dalam keseharian kita, baik na`budu maupun nasta`in kita lupa.

Kunci menuju Kesuksesan

Kunci dari semua kesuksesan itu adalah ‘wa`budullah’, ‘sembahlah Allah’. Dimana kesuksesan dan kejayaan akan lebih mudah dicapai bila kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Karena kesuksesan dan kejayaan bisa terwujud hanya dari ridlo Allah SWT, bukan karena dari manusia itu sendiri. Karena kejayaan atau jabatan yang berasal dari manusia akan mudah jatuh, pupus, dan hilang, tetapi kejayaan dan kesuksesan yang Allah berikan, tidak ada seorang pun yang dapat meruntuhkannya.

Demikian pula sebuah hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau hidup untuk selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari’.”

Adapun beberapa amalan yang bisa kita lakukan agar dimudahkan rizqi, dimudahkan segala urusan, dan mendapatkan keberkahan, yaitu istiqamahkan membaca surah Thaha dan Al-Waqi`ah bakda shalat Subuh diakhiri dengan shalat Dhuha. Dan bagi yang tidak mampu melakukannya, dapat mengamalkan membaca surah Al-Quraisy sebanyak sebelas kali setiap ba`da subuh dan sesudah ashar, sebagaimana yang diijazahkan oleh Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri.

Sumber : Majalah alKisah
Share:

8.06.2010

Rindu Ramadhan



Saudaraku yang di Rahmati Allah…

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai penghulu daripada bulan-bulan setahun dan melipat gandakan pahala kebaikan di dalamnya. Tak lupa Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membawa risalah Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh bagi manusia.

Tak terasa kita telah dipenghujung bulan Sya’ban, dimana tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Suci Ramadhan. Dan insya Allah untuk kesekian kalinya tamu agung tersebut akan berkunjung diantara rangkaian usia kita. Bulan suci yang Agung dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan kepada khalayak sebagai berita suka cita.

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki)

Kabar gembira tersebut pun disambut gembira. Sampai-sampai para ulama salaf berdoa untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelumnya. Karena begitu cintanya mereka pada bulan mulia tersebut, mereka amat takut jika tahun tersebut mereka tidak dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan.

Bagaimana dengan kita? Adakah rasa rindu itu hadir meski secuil di hati? Adakah sebentuk harapan meski sesekali? Atau malah sebaliknya, justru dalam bayangan kita akan datang bulan yang akan “mengekang, mengebiri bahkan mengunci” kemerdekaan syahwat kita selama bulan suci tersebut? Sehingga Ramadhan seakan – akan menjadi momok yang menakutkan karena nafsu kita tidak bisa terlampiaskan sepuasnya digantikan dengan rasa lapar sepanjang hari? tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka. Bahkan sering kali kita dengar guyonan, joke atau apalah namanya yang mengajak untuk habis- habisan bersenang – senang mereguk maksiat mumpung belum memasuki bulan ramadhan?! Naudzubillahi min dzalik....

Saya berdo’a untuk saudara- saudaraku semua, bahwa Anda adalah Para Perindu dan Pecinta Ramadhan, yang selalu berharap – bermunajad agar pintu Jasmani, Ruhani, Qolbu Anda terbuka lebar untuk menyambutnya, memuliakannya dan mereguk nikmatnya dengan suka cita, berenang dalam berkah, rahmat dan ampunanNYA. Agar nikmat dan keberadaan Ramadhan ini bisa sampai hingga meresap dan menyatu dengan kita dan juga sesuai dengan harapkan kita, Sehingga menjadi pribadi yang dirindukan oleh Indahnya bau Syurga, Amiiin...

Untuk itu kiranya perlu kita perhatikan dhawuh dari beberapa Kyai Sepuh yang saya terima dan bisa saya bagikan kepada Saudaraku semua, semoga menjadikan pengetahuan yang bermanfaat. Karena ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, koreksi dan benahi dalam diri kita, ( mohon ma’af untuk yang sudah mengerti, mengetahui dan memahami, semoga bisa menjadi penambah tebalnya keyakinan iman serta ketaqwaan kita dan bagi yang tidak berkenan maka hiraukanlah tulisan ini)

Pertama : Sambut Ramadhan dengan Bersih dan Suci dari segala najis.

Bulan Ramadhan disebut juga bulan suci karena pada bulan tersebut memiliki keistimewaan bahwa Sang Maha Pemilik Kesucian dan Pemilik Cinta mengamati langsung kegiatan kita serta mencatat langsung segala amal ibadah dan perbuatan kita tanpa perantara Para Malaikat, untuk itu bagi umat yang Cinta akan kehadiran Pangeran Cintanya dan ingin selalu dekat denganNYA, sudah seharusnyalah kita menyambutnya dengan kondisi suci dari :

  • Najis Mukhoffafah (Najis Ringan)
    Najis mukhoffafah atau najis ringan misalnya : terkena air kencing bayi yang umurnya belum dua tahun dan belum makan sesuatu selain dari susu ibunya (susu yang dicampur gula atau tepung itu hukumnya seperti selain susu).

  • Najis Mugholladzoh (Najis Berat)
    Najis mugholladhoh atau najis berat misalnya terjilat anjing dan babi dan keturunan dari keduanya atau salah satu dari keduanya.

  • Najis Mutawassitah (Najis Sedang)

    Najis mutawasitah adalah najis selain dari najis mukhoffafah dan najis mugholladzoh.


  • Selain dari yang sudah umum diketahui tersebut, masih ada beberapa yang tergolong najis yang harus dibersihkan dari diri kita yaitu :


  • Pandangan Mata
    Menghindar dan menjauhkan dari pandangan mata terhadap hal – hal yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Pendengaran
    Menghindar dan menjauhkan diri dari mendengarkan hal – hal yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Perbincangan
    Menjauhi serta menahan diri dari menggunjing, berkata kotor, keji, tercela dll. yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Jangkauan
    Menjauhi dari mengambil yang bukan menjadi hak nya atau mengambil sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Langkah
    Menghindari dan menjauh dari langkah – langkah yang mengajak kepada maksiat dan sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Harta
    Mensucikan diri dari pendapatan dan penghasilan yang tidak halal atau dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Pakaian
    Menjaga pakaian senantiasa bersih dan suci dan menghindari dari pakaian yang dibeli dari harta yang tidak halal dan diharamkan oleh Allah.

  • Hati
    Menjaga dan menjauhkan hati kita dari berbuat ujub, riya’, sombong, iri, dengki, hasut, nafsu untuk melakukan maksiat dll. serta yang diharamkan oleh Allah.

  • Aktifitas
    Menghindari dan menjauhkan diri dari aktifitas atau kegiatan yang miskin manfaat. Misalnya main game seharian? Inget lho, meski aktivitas itu tergolong mubah alias boleh-boleh saja dilakukan, tapi kalo seharian gimana urusannya? Dan beberapa aktifitas yang diharamkan oleh Allah.


Kedua : Sambut Ramadhan dengan Permohonan Ma’af

Semua manusia pasti tidak terlepas dari kesalahan dan dosa, untuk mengurangi bahkan menghapusnya maka kita harus memohon ma’af kepada siapapun yang pernah kita sakiti bahkan kita benci, atau kepada siapapun yang pernah dekat dengan kita, karena siapa tahu kita telah melakukan kesalahan yang tanpa kita ketahui dan kita sengaja. Karena Keistimewaan bulan Ramadhan adalah merupakan bulan dimana Sang Pemilik Ampunan akan memberikan segala ampunannya. Agar ampunan tersebut tidak terganjal maka kita harus memohon maaf terhadap sesama terutama :

  • Orang Tua
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani).

  • Saudara, Sahabat dan Teman
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).


Ketiga : Berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan

Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia menikmati indahnya bulan Ramadhan, dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, “Allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.

Keempat : Sambut Ramadhan dengan Taubat.

“Setiap manusia tidak akan terlepas dari dosa dan sebaik-baiknya adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah.
Kita sambut Ramadhan dengan memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu. Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya.

Kelima : Bersyukur pada Allah

Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan Nya. ” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
Demikian semoga tulisan ini bermanfaat dan mudah-mudahan kita dipertemukan dengan Ramadhan dan mendapatkan banyak keutamaan didalam bulan yang istimewa tersebut, Amiin...

Marhaban yaa.. Ramadhan. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1431 H.
Wallahu ‘alam bi shawab. *(Mas Aan)*
Share:

7.13.2010

Sudah Siapkah Kita Menyambut Ramadhan ???



Saudaraku yang di Rahmati Allah

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kita akan segera memasuki bulan Ramadhan. Ada yang menyambutnya dengan gembira karena merasa ini adalah momentum terbaik bagi gugurnya dosa, meningkatnya derajat pahala dan tersambungnya kembali jalinan silaturahim. Bulan penuh berkah, bulan penuh rahmah, bulan kembali kepada alquran dan ibadah. Dan semua umat Islam berharap seandainya setiap bulan merupakan bulan Ramadhan, alangkah nikmatnya.

Di sisi lain, ada juga sebagian dari kita yang biasa-biasa saja menyambut Ramadhan, tidak ada perasaan sedikitpun yang istimewa dari bulan Ramadhan. Padahal Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa, agar kita bisa dipertemukan dengan nikmatnya bulan Ramadhan.

“Ya Allah SWT berkatilah kami di bulan Rajab, berkatilah kami di bulan Sya'ban dan ijinkanlah kami untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.”

Subhanallah, itulah keistimewaan Ramadhan sampai - sampai Rasulullah memohon kepada Allah seperti itu, karena kita tidak pernah tahu, apakah umur kita akan sampai ke bulan yang penuh berkah itu ?, Kami semua berdo’a semoga Allah memberikan kita umur panjang hingga bisa menikmati Indahnya bulan Ramadhan, Amin yaa Robbal’alamin.

Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, setiap muslim wajib membekali dirinya dengan persiapan maksimal yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, agar secara lahir dan batin kita lebih siap melaksanakan ibadah dalam bulan Ramadhan.

Saat akan datangnya bulan Ramadhan seorang muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan keilmuan dan pemahamannya mengenai apa yang mesti diperbuat dan dihindari selama bulan Ramadhan. Agar pahala Puasanya tidak berkurang bahkan hilang.

Diantara persiapan tersebut adalah :

Pertama, I'dad Ruhi Imani yakni persiapan ruh keimanan. Dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedhaliman sejak memasuki bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain diperbolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab iman kita sudah dijaga dan terus ditingkatkan. Dengan kata lain bulan Rajab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up) sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan kita sudah siap seperti hari biasanya dan serasa tidak ada hambatan apapun.

Kedua, adalah I'dad Jasadi yakni persiapan fisik. Seorang muslim membutuhkan kondisi fisik yang prima. Apabila kondisi fisiknya lemah, seorang muslim tidak akan dapat menjalankan berbagai rutinitas ibadah yang penuh dengan kemuliaan -kemuliaan yang dilimpahkan Allah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, pada bulan Rajab Nabi Muhammad SAW dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, memperbanyak membaca al-Qur'an, membiasakan bangun malam (qiyamul-lail) dan meningkatkan urusan dunia (mencari nafkah) untuk persiapan memperbanyak kegiatan sedekah pada bulan Ramadhan.

Ketiga, adalah I'dad Maliyah yakni persiapan harta. Jangan salah mengerti tentang persiapan harta, maksud persiapan harta disini bukan untuk membeli keperluan makanan buka puasa atau bermacam kue-kue lebaran sebagaimana yang menjadi tradisi kita selama ini, namun semata – mata untuk persipan melipatgandakan kegiatan sedekah, karena pada bulan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibanding bulan biasa.

Keempat, adalah I'dad Fikri wa Ilmi yakni persiapan fikiran dan ilmu. Agar ibadah di bulan Ramadhan dapat lebih optimal, sehingga butuh wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan, sehingga ibadah Ramadhan kita dapat sempurna sesuai tuntunan Rasulullah. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan ramadhan, memperdalam berbagai masalah dalam ilmu fiqih tentang puasa dan lain-lain juga penting dilakukan.

Sehingga Ketika Ramadhan tiba kita sudah menuju pada proses pendewasaan ruhani, dimana kebiasaan ibadah meningkat, semangat berdzikir bertambah, semakin cinta shalat berjamaah, melaksanakan aktivitas-aktivitas infak, shadaqah dengan lebih ikhlas, menahan lapar, haus, seksual, mulai fajar hingga terbenam matahari dengan mulus bisa dilalui. Hingga membaca Alquran sampai khatam (tamat) bisa dinikmati dengan semangat membara. Hal yang wajar jika amaliah di bulan suci Ramadhan begitu spektakuler dilaksanakan kaum muslimin. Karena inilah merupakan suatu proses tercapainya derajat taqwa yang akan membawa kepada kesuksesan dunia maupun akherat.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Baqarah ( 2: 185 ) yang berbunyi:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Share:

3.26.2010

Mendidik Anak TANPA Kekerasan


Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua? Apa musti dipukul dulu baru nurut?”. Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan?”. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata ”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya ”Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter)? Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab”? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

Ariesandi dan Sukarto
(http://sayanganak.com)
Share:

2.16.2010

Hal yang Membuat Rizky tidak Lancar


Allah SWT menciptakan semua makhluk benar-benar sempurna, bahkan hingga sampai kepada pembagian rezekinya Allah sangat memperhatikan. Allah juga menjamin bahwa tidak ada satu pun mahluk di jagat raya ini yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Allah menjamin pemenuhan rezeki ini. Sekarang pertanyaan nya adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih ekstrim lagi adalah sudah benar atau tidakkah cara mendapatkannya. Dan perlu diketahui bahwa rezeki yang dimaksud di sini tentu bukan hanya sekadar uang, ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan namun ketaatan pada Allah itu juga merupakan bagian dari rezeki, bahkan takaran nilainya jauh lebih tinggi dibanding uang.

Banyak kita jumpai orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Ada yang mengeluh kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya bisnis saya gagal terus ?” “Mengapa ya hati saya tidak pernah tenang?” Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lainnya. Namun semua tidak menyadarinya, bahwa ada banyak penyebab tidak lancarnya rezeki mengalir ini, diantaranya adalah mungkin cara kita mencari yang kurang profesional, atau kurang serius mengusahakan nya, dan ada pula kondisi-kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki ini. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tidak lancar? Dan apa saja yang menjadi penyebabnya?

Saudaraku, Allah adalah satu-satunya Dzat yang Maha Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi lancarnya aliran rezeki ini :

Pertama, Lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita telah berharap dan menggantungkan diri kepada selain kepada Allah, Atau kita sudah berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah telah menyatakan bahwa Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Maka jika pada suatu ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Dan sebaliknya barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya, dan dari arah yang tidak disangka-sangka. Demikian janji Allah dalam QS: Ath Thalaaq [63] ayat 3.

Kedua, Adanya dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan. Dosa ternyata merupakan penghalang datangnya rezeki. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya seseorang akan terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Nah bagaimana agar dosa ini supaya tidak menyumbat aliran rezeki kita, maka tobatlah jawaban sebagai pintu pembukanya. Andai kita mau menyimak, ternyata didalam do’a minta hujan itu isinya adalah permintaan tobat, bahkan isi do’a Nabi Yunus pun saat berada dalam perut ikan ternyata juga adalah permintaan tobat, demikian pula isi permohonan do’a ketika meminta dikaruniai anak dan pada saat Lailatul Qadar ternyata adalah permohonan tobat. Karena itu bila rezeki terasa seret, maka perbanyaklah tobat dengan hati, ucapan, dan perbuatan kita.

Ketiga, Kesalahan dalam mencari nafkah. Selama ini banyak dari kita belum menyadari apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah termasuk kategori halal menurut agama? Kalau toh memang halal, apakah sudah benar dalam mencari dan menjalaninya? Perhatikan selalu hal ini. Apabila terjadi kecurangan sekecil apapun dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (baik korupsi waktu maupun uang), manipulasi timbangan, praktik mark up dan sebagainya, itu akan sangat berdampak pada rezeki kita menjadi tidak berkah. Mungkin uang bisa kita dapatkan , namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Bagaimanakah mengetahui ciri rezeki tersebut tidak berkah, diantaranya adalah mudahnya rezeki tersebut menguap untuk hal yang sia -sia, atau hasil yang kita peroleh tidak membawa ketenangan sehingga sulit dipakai untuk taat kepada Allah bahkan ada yang sampai menjadi biang penyakit. Bagaimana bila sudah terlanjur melakukannya, syaratnya hanyalah segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, Pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Saudaraku... cobalah setiap hari biasakan kita bertanya pada diri kita, apakah pekerjaan yang kita lakukan selama ini membuat hubungan kita dengan Allah semakin dekat ataukah malah makin menjauh? Jangan – jangan kita terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau sering kali jadi telat), bahkan mungkin juga sudah lupa membaca Al-Qur’an, atau ada juga yang sampai lupa mendidik keluarga, jika ini sampai terjadi maka ini lah sinyal-sinyal bahwa pekerjaan yang kita lakukan tidak membawa berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya menurut Rasulullah kita bekerja itu membuat kita semakin bersyukur dan semakin dekat dengan Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai kewajiban kita kepada Allah kita abaikan.

Kelima, Malas bersedekah. Siapa pun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya pasti irit. Sebaliknya dengan sedekah akan bertambah berkah, penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Bahkan Allah menekankan betapa pentingnya bersedekah. Sedekah itu bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada tiap-tiap bulir itu akan terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Maha kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Jika tertarik maka mari kita langgengkan amalan pada diri kita bahwa tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan dengan senang hati membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin. Walllahu’alam
Share:

2.12.2010

Apresiasi Rasulullah Pada Orang Bekerja



Dalam sejarah Islam, semua Nabi bekerja untuk kehidupannya. Ini untuk menunjukkan bahwa para nabi bukan Rabi atau Pendeta yang dicukupi kehidupannya dari umatnya.

”Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah di usahakannya”.(QS An-Najm [53]: 39)

Sehari-hari para Nabi giat bekerja. Ingat bagaimana kisah Musa AS yang bekerja pada Nabi Syuaib atau Nabi Daud sebagai pengrajin, Nabi Yusuf sebagi pengawas gudang, dan tak terkecuali Nabi junjungan kita Muhammad SAW yang menjadi pengembala maupun pedagang pada sebelum kenabian dan mengerjakan banyak pekerjaan kasar lain setelah masa kenabian.

Para Nabi diperintahkan Allah bekerja keras untuk memperoleh kehidupan yang baik. Dimana di balik pesan itu Allah mempunya misi bahwa betapapun mulia seorang Nabi, mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kehidupannya, sebagai contoh dan teladan terbaik bagi umatnya. Sebagaimana diketahui Rasulullah SAW memaknai bekerja bukanlah sekadar untuk mencari uang, kekayaan, dan kemuliaan duniawi semata. Namun lebih dari itu, Rasulullah SAW menempatkan bekerja sebagai wujud aktualisasi keimanan dan ketakwaan dalam koridor ibadah semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Bahkan Putri Nabi sendiri yaitu Fatimah az Zahra pernah suatu hari kehabisan gandum, sementara anak-anaknya butuh makan dan ada yang jatuh sakit. Sedang kondisi pada saat itu sepeserpun dia tidak memiliki uang . Pergilah Fatimah ke pemilik toko dan bertanya apakah ada pekerjaan yang bisa dia lakukan, maka didapatinya pekerjaan menumbuk gandum untuk dibuat roti dan hasilnya bisa untuk mencukupi makan hari itu bersama anaknya.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Ath-Thabrani, dikisahkan ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya,"Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya." Mendengar itu Rasul pun menjawab,"Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah" (HR Ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain juga diceritakan, suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa'ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. "Kenapa tanganmu?" tanya Rasul kepada Sa'ad. "Wahai Rasulullah," jawab Sa'ad,"Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku". Seketika itu beliau mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata,"Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka".

Inilah apresiasi yang Rasulullah SAW berikan kepada orang yang mau bekerja keras, gigih, dan semangat mencari rezeki di jalan Allah SWT. Beliau tidak melihat apa jenis pekerjaannya, asalkan halal, tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama, dan diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT. Juga Rasulullah tidak melihat siapa orangnya, sampai-sampai pada riwayat di atas manusia teragung ini rela mencium tangan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari yang melepuh lagi gosong tersebut.

Islam sendiri mengajarkan, untuk mendapatkan rezeki yang Allah SWT tebar di muka bumi ini, hendaklah tiap individu berusaha sekuat tenaga, sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Yang selanjutnya, hasilnya kita bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan artian pasrah diri tanpa usaha dan tidak bekerja, namun semampu mungkin potensi yang ada kita maksimalkan untuk meraih rezeki tersebut. Nabi Muhammad SAW, dalam salah satu hadisnya yang lain juga mengatakan,“Jika kalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang. ”

Hadis di atas pada dasarnya berisikan motivasi agar kita gigih bekerja, bahkan jika perlu meninggalkan tempat tinggal pagi hari untuk mencari nafkah, bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di kediaman menunggu tersedianya kebutuhan hidup. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

(Aan, dari berbagai sumber)
Share:

12.10.2009

Fasilitas Pemakaman Mewah apakah Bermanfaat untuk Penghuninya ?



Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku! Anda pernah dengar pemakaman mewah yang dikembangkan oleh perusahaan Lippo Karawaci? Komplek pemakaman mewah itu diberi nama San Diego Hills Memorial Park And Funeral Homes (SDH). Konon, untuk mengembangkan komplek pemakaman itu, Lippo harus merogoh kocek dalam-dalam hingga mencapai 10 triliun. Mega Proyek ini "katanya" bertujuan merubah citra pemakaman, yang selama ini dikenal angker. Karenanya, komplek pemakaman ini dilengkapi dengan family center seperti danau seluas 8 hektare, kapel untuk upacara sebelum pemakaman, gedung pertemuan dengan kapasitas 250 kursi, restoran Italia, sarana olah raga seperti kolam renang, jogging track dan lain-lain. Pihak pengembang mengharapkan komplek pemakaman ini menjadi asri dan indah, sehingga dapat mejadi salah satu obyek wisata.

Benarkah dengan berbagai fasilitas mewah itu pemakaman dapat berubah menjadi asri dan indah, terlebih-lebih bagi para penghuninya?

Untuk dapat mengetahui jawabannya, anda haruslah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di alam kubur.

Saudaraku: Bila semasa hidup di dunia anda adalah orang yang beriman dan rajin beramal sholeh, maka setelah ruh anda berpisah dari raga, maka ruh anda akan di bawa ke langit menghadap kepada Allah.

حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِى تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِى فِى عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الأَرْضِ فَإِنِّى مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّىَ اللَّهُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِىَ الإِسْلاَمُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ . فَيَقُولاَنِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ . فَيُنَادِى مُنَادٍ فِى السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِى فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى الْجَنَّةِ - قَالَ - فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ - قَالَ - وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِى وَمَالِى.

Setibanya di langit dunia, maka para malaikat pembawa ruh orang mukmin akan memintakan izin untuknya agar dibukakan pintu langit. Setelah pintu langit dibukakan, maka serta merta para pemuka Malaikat yang menghuni langit dunia akan mengiringi ruh orang mukmin itu menuju ke langit selanjutnya. Demikianlah seterusnya hingga ruhnya tiba di langit ke tujuh. Setibanya ruh orang mukmin itu di langit ke tujuh, Allah Azza wa Jalla akan berfirman kepada para Malaikat: "Tuliskanlah catatan amal hamba-Ku di tempat yang tinggi nan mulia. Selanjutnya segera kembalikanlah ruhnya ke bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka, dan kepadanya Aku kembalikan mereka dan darinya pula Aku bangkitkan mereka. Maka ruh orang mukmin itupun dikembalikan ke jasadnya."

Setelah ruh kembali ke jasad, datanglah dua malaikat, yang akan mendudukkan orang mukmin itu. Dan setelah ia duduk, keduanya bertanya:

"Siapakah Tuhanmu?" Maka orang mukminpun menjawab: "Tuhanku adalah Allah."

Keduanya kembali bertanya: "Apakah agamamu?" Orang mukmin itupun menjawab: "Agamaku adalah Islam."

Keduanya kembali bertanya: "Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan di tengah-tengah umatmu?" Orang mukmin itupun kembali menjawab: "Dia adalah utusan Allah."

Keduanya kembali bertanya: "Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu?" Orang mukmin itupun menjawab: "Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya."

Setelah orang mukmin itu menjawab seluruh pertanyaan kedua malaikat itu, terdengar seruan dari langit: "Hamba-Ku telah menjawab dengar benar, maka hamparkanlah untuknya kasur dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu menuju ke surga." Sehingga orang mukmin itupun dapat merasakan hawa sejuk dan harumnya surga. Kuburannya diluaskan sejauh pandangan matanya. Selanjutnya akan datang seorang lelaki rupawan, berpakaian bagus, dan harum baunya yang berkata kepadanya: "Bergembiralah dengan sesuatu yang pasti menjadikanmu senang, ini adalah hari yang sebelumnya telah dijanjikan kepadamu."

Menyaksikan lelaki rupawan itu, orang mukmin itupun segera bertanya kepadanya: "Siapakah engkau, wajahmu menunjukkan engkau membawa kebaikan?"

Lelaki rupawan itupun menjawab: "Aku adalah amal sholehmu."

Mengetahui bahwa amal sholehnya telah diterima Allah: Orang mukmin itupun segera berdoa: "Wahai Tuhanku, segera bangkitkanlah hari kiamat, agar aku segera dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan harta kekayaanku."

***

Saudaraku, tentu anda bercita-cita untuk menjadi orang tersebut. Anda dapat menjawab pertanyaan kedua malaikat di alam kubur, sehingga mendapatkan kenikmatan kubur.

Akan tetapi andapun pasti menyadari siapakah sebenarnya jati diri anda? Benarkah anda adalah orang yang seperti disebutkan pada kisah di atas?

Coba sekali lagi anda membaca tanya jawab antara kedua malaikat dengan ruh di atas. Coba renungkan dengan baik tanya-jawab kedua malaikat dengan orang mukmin di atas: "Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu?" Orang mukmin itupun menjawab: "Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya."

Benarkah anda telah mengenal Allah, agama islam dan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam karena anda telah mempelajari Kitabullah? Ataukah anda mengenal ketiganya hanya karena terlahir di masyarakat Islam, sedangkan anda tidak bisa membaca Al Qur'an apalagi mengkaji makna dan kandungannya?

Ada baiknya bila saudaraku kembali berpikir! Darimanakah saya mengenal Allah, agama Islam dan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam? Benarkah saya telah mengenal ketiganya karena telah mempelajari Al Qur'an dan kemudian mengimani dan mengamalkan kandungannya?

Jangan-jangan selama ini saudara mengenal ketiganya hanya karena membeo apa kata orang lain! Anda mendengar orang berkata sesuatu tentang ketiganya, lalu andapun menirunya. Bila ini yang terjadi pada diri anda, maka simaklah apa yang akan anda alami di alam kubur:

حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلاَ يُفْتَحُ لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم .لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ. فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِى سِجِّينٍ فِى الأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحاً. ثُمَّ قَرَأَ :وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ. فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى.
وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْن، فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ. وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لاَ تُقِمِ السَّاعَةَ.

Sesampainya di langit dunia, para malaikat pembawa ruh orang kafir itu meminta izin agar pintu langit dibukakan untuknya, akan tetapi pintu langit tidak dibukakan untuknya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah:

لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

"Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga, hingga ada unta masuk ke dalam lubang jarum." (Qs. Al-A’raf: 40)

Saat itu Allah Azza wa Jalla berfirman: "Tuliskanlah catatan amal di Sijjin di bumi paling bawah." Kemudian ruh itu dicampakkan ke bumi dengan keras." Selanjutnya nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kembali membaca firman Allah Ta'ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka seolah-olah ia terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Qs. Al Hajj: 31)

Kemudian ruh orang kafir itu dikembalikan ke jasadnya. Setelah ruhnya kembali ke jasadnya, datanglah dua malaikat yang mendudukannya. Setelah ia duduk kedua malaikat itu bertanya kepadanya:

"Siapakah Tuhanmu?" Orang kafir itu kebingungan menjawabnya dan berkata: "Hah, hah, aku tidak tahu."

Kedua malaikat itu kembali bertanya: "Apakah agamamu?" Orang kafir itu kembali kebingungan menjawabnya dan berkata: "Hah, hah, aku tidak tahu."

Kedua malaikat itupun kembali bertanya: "Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan ditengah-tengah umatmu?" Kembali orang kafir itu kebingungan menjawabnya, dan lagi-lagi ia berkata: "Hah, hah, aku tidak tahu."
Dan pada sebagian riwayat orang kafir itu berkata: "Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain."

وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ

Mendengar jawaban orang kafir itu, kedua malaikat tersebut menghardiknya dengan berkata: "Engkau tidak tahu, dan tidak pula pernah membaca (belajar)?" Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi dengan sangat keras, sehingga iapun menjerit kesakitan. Begitu keras jeritannya, sampai-sampai dapat didengar oleh seluruh makhluk disekitarnya, kecuali jin dan manusia.

Selanjutnya, terdengarlah seruan dari langit: "Sungguh Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan untuknya kasur dari api neraka, bukakan untuknya pintu ke neraka." Maka iapun merasakan hawa panas dan bau busuk neraka. Bukan hanya itu, kuburannyapun disempitkan hingga tulang rusuknya tercerai-berai.

Setelah kuburannya menyempit, datanglah seorang lelaki yang buruk raut wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk bau badannya, seraya berkata: "Selamat menikmati sesuatu yang menyedihkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu." Orang kafir itu bertanya: "Gerangan, siapakah engkau? Wajahmu menandakan engkau membawa kesialan!" Lelaki itupun menjawab: "Aku adalah amal kejahatanmu." Karena menyesali perbuatannya, orang kafir itupun menyeru: "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat."

***

Kisah di atas saya sarikan dari gabungan riwayat imam Bukhari dan Ahmad.

Saudaraku! Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengisahkan bahwa penduduk Syam bila hewan ternak mereka ditimpa sakit perut, segera mereka membawanya ke pekuburan orang-orang yahudi, atau nasrani, atau Majusi, atau orang-orang munafik para pengikut aliran Ismailiyah atau kebatinan. Yang demikian itu dikarenakan para penghuni kuburan itu disiksa, sehingga mereka menjerit-jerit kesakitan:

إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا. متفق عليه

"Sesungguhnya penghuni kuburan (yang kafir atau jahat-pen) disiksa, dan siksanya itu dapat didengar oleh seluruh binatang ternak." (Muttafaqun 'alah)

Karena mendengar siksa penghuni kuburan itulah, hewan penduduk Syam menjadi ketakutan, dan akhirnya badannyapun menjadi panas, dan penyakit perutnyapun sirna. (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah 4/287)

Demikianlah kehidupan penduduk kubur wahai saudaraku! Karena begitu mengerikannya, sampai-sampai pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya:

فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ. رواه مسلم

"Andailah kalau bukan karena khawatir kalian akan enggan menguburkan saudara kalian yang meninggal dunia, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar ia memperdengarkan kepada kalian sebagian dari suara siksa alam kubur sebagaimana yang aku dengar." (Riwayat Muslim)

Saudaraku, coba kembali anda cermati jawaban orang kafir di atas terhadap pertanyan malaikat: "Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain."

Saudaraku! Karena dasar apakah anda beriman kepada Allah, beragama Islam dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad? Apakah saudara melakukan itu semua berdasarkan ilmu yang saudara peroleh dari mempelajari Al Qur'an, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan dengan ucapan orang tua dan masyarakat sekitar? Hanya anda yang mengetahui jawabannya.

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita semua dan juga karib kerabat kita termasuk dari orang-orang yang menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur sebagaimana yang diucapkan oleh orang pertama dan bukan yang diucapkan oleh orang kedua.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. آمين

"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dan azab neraka. Sebagaimana aku juga berlindung kepadamu dari godaan kehidupan dunia dan kematian serta dari godaan Al Masih Ad Dajjal." Amiin...

***

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Artikel www.pengusahamuslim.com

Share:

10.22.2009

Ayat Al Qur'an di Tubuh Bayi


dakwatuna.com – Rusia. Kisah ayat Al-Qur’an muncul di tubuh bayi masih menjadi perhatian serius di Rusia. Salah seorang ulama Rusia menganggap pemunculan ayat suci itu sebagai peringatan dari Tuhan.

“Kami menganggapnya sebagai peringatan untuk muslim Rusia dan Dagestan. Mereka harus menjalani perintah Allah, menyesali kesalahan-kesalahannya, dan melepaskan diri dari konflik dan perpecahan yang kini melanda Dagestan dan Caucasus,” kata seorang ulama, Akhmedpasha Amiralaev seperti dilansir The Sun.

Hingga kini logika maupun peralatan kedokteran memang belum mampu memecahkan misteri bocah Rusia tersebut.


Bocah ajaib yang mendapatkan ‘berkah’ itu adalah Ali Yakubov, bocah berumur 9 bulan. Ayat suci muncul di kulit Ali tidak lama setelah kelahirannya. Salah satu ayat yang muncul menyatakan ‘Allah adalah pencipta seluruh alam’. Uniknya lagi, petikan ayat suci ini hanya timbul setiap Senin dan Kamis malam.

Dilansir Interfax, Rabu (21/10/2009), mulanya orang tua Ali tidak memberitahukan kepada siapapun akan keajaiban si bayi. Tulisan Alquran pertama kali muncul di dagu Ali. Setelah dagu, ayat-ayat Alquran pun mulai terlihat pada punggung, lengan, kaki dan perut Ali.

Setelah berkali-kali terjadi, orang tua Ali akhirnya memutuskan memberitahukan keajaiban itu kepada dokter. Terlebih bila ayat-ayat itu muncul, Ali seperti kesakitan. “Ali selalu merasa tidak sehat ketika tanda itu muncul. Ia menangis dan suhu badannya meningkat,” ujar ibu Ali, Medina.

Saat ayat-ayat Alquran itu muncul di tubuh bayinya, Medina mengaku tidak mungkin menggendong Ali. “Badannya secara aktif bergerak, sehingga kami menaruhnya di tempat buaian. Sangat sulit melihatnya menderita,” ceritanya.

Ini Rekaman Videonya





Share:

9.17.2009

Sedihnya Ramadhan akan berakhir



Pembaca yang dirahmati Allah! Orang yang bahagia saat kedatangan tamu dan sedih saat tamunya pulang pasti mencintai si tamu. Sebaliknya orang yang sedih saat kedatangan tamu dan bahagia saat tamunya pulang, pasti tidak menyenangi si tamu.

Ramadhan sebentar lagi akan berakhir. Tamu Agung yang anugerahkan Allah bagi orang-orang yang beriman itu akan meninggalkan kita. Mudah-mudah Allah Swt. senantiasa membantu kita menata hati untuk selalu cenderung pada hidayahnya bukan malah berbangga saat kesempatan emas untuk memperbanyak amal telah usai.

Ramadhan memang akan berakhir tapi belum terakhir. Masih ada kesempatan untuk menambah amal. Lebih-lebih di sepuluh malam terakhir. Allah Swt. Memberikan bonus pahala besar-besaran pada salah satu malam di sepuluh malam terakhir. Malam itu adalah malam Qadar (lailatul qadr). Tentunya bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. Memperbanyak shalat, dzikir, tilawah, sedekah dan amalan-amalan lainnya.

Berakhirnya Ramadhan menjadi saksi atas amal-amal kita. Selamat bagi yang amalnya baik, yang amalnya itu akan menolongnya untuk masuk Surga dan bebas dari Neraka. Dan celaka bagi orang yang buruk amalnya lantaran kelengahan dan menyia-nyiakan waktu Ramadhan. Maka perpisahan dengan Ramadhan hendaknya diakhiri dengan kebaikan, karena ketentuan amal itu pada pungkasannya. Barangsiapa berbuat baik di bulan Ramadhan hendaklah menyempurnakan kebaikannya, dan barangsiapa berbuat jahat hendaklah ia bertobat dan menjalankan kebaikan pada sisa-sisa umurnya. Barangkali tidak akan menjumpai lagi hari-hari Ramadhan setelah tahun ini. Maka hendaklah diakhiri dengan kebaikan dan senantiasa melanjutkan perbuatan baik yang telah dilakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Karena Rabb yang memiliki bulan-bulan itu hanyalah satu, dan Dia mengawasimu dan menyaksikanmu. Dan Dia memerintahkanmu untuk taat selama hidupmu.

Barangsiapa menyembah Ramadhan maka sesungguhnya bulan Ramadhan ini telah akan habis dan lewat. Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, tidak mati. Maka teruskanlah beribadah padaNya dalam segala waktu. Sebagian orang beribadah di bulan Ramadhan secara khusus. Mereka menjaga shalat-shalatnya di masjid-masjid, memperbanyak baca Al-Quran, dan menyedekahkan hartanya. Lalu ketika Ramadhan usai, mereka bermalas-malasan, kadang-kadang mereka meninggalkan shalat Jum’at dan tidak berjama’ah. Mereka itu telah merusak apa yang telah mereka bangun sendiri, dan menghancurkan apa yang mereka bina. Seakan-akan mereka menyangka, ketekunannya di bulan Ramadhan itu bisa menghapuskan dosa dan kesalahannya selama setahun. Juga mereka anggap bisa menghapus dosa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan dosa melanggar hal-hal yang haram. Mereka tidak menyadari bahwa penghapusan dosa karena berbuat kebaikan di bulan Ramadhan dan lainnya itu hanyalah terhadap dosa-dosa kecil dan itupun terikat dengan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar.

Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).” (An-Nisaa’: 31).

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, artinya: “Shalat lima waktu, Jum’at sampai dengan Jum’at berikutnya, dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi diantara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan. “(HR. Muslim).

Dosa besar mana selain syirik (menyekutukan Allah Ta’ala) yang lebih besar daripada meninggalkan shalat? Tetapi meninggalkan shalat itu sudah menjadi kebiasaan yang lumrah bagi sebagian orang. Ketekunan mereka di bulan Ramadhan tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka jikalau mereka melanjutkannya dengan kemaksiatan-kemaksiatan berupa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melanggar larangan-larangan Allah Ta’ala. Sebagian ulama ditanya tentang kaum yang tekun ibadah di bulan Ramadhan, tetapi setelah usai, mereka meninggalkannya dan berbuat buruk. Maka dijawab: Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Ya, benar. Karena orang yang mengenal Allah tentunya ia akan takut padaNya setiap waktu (bukan hanya di bulan Ramadhan).

Bila bukan karena kesadaran Sebagian orang kadang berpuasa Ramadhan dan menampakkan kebaikan serta meninggalkan maksiat, namun itu semua bukan karena keimanan dan kesadaran. Mereka mengerjakan itu hanyalah dalam rangka basa-basi dan ikut-ikutan. Karena hal ini terhitung sebagai tradisi masyarakat. Perbuatan ini adalah kemunafikan besar, karena orang-orang munafik memang pamer kepada manusia dengan menampak-nampakkan ibadahnya. Orang-orang munafik itu menganggap bulan Ramadhan ini sebagai penjara, sementara yang ditunggu adalah usainya, untuk berkiprah dalam kemaksiatan dan perbuatan perbuatan haram, bergembira ria dengan usainya Ramadhan lantaran bebasnya dari kungkungan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:“Telah masuk pada kalian bulan kalian ini,” kata Abu Hurairah dengan menirukan dawuh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “tidak ada bulan yang melewati Muslimin yang lebih baik bagi mereka daripadanya, dan tidak ada bulan yang melewati orang-orang munafik yang lebih buruk bagi mereka daripadanya,” kata Abu Hurairah dengan menirukan dawuh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam., “Sesungguhnya Allah pasti akan menulis pahalanya dan sunat-sunnatnya sebelum (mukmin)memasukinya (bulan Ramadhan itu), dan akan menulis dosanya dan celakanya sebelum (munafik) memasukinya. Hal itu karena orang mukmin menyediakan makanan dan nafakah/belanja di bulan itu untuk ibadah kepada Allah, dan orang munafik bersiap-siap di bulan itu karena membuntuti kelalaian-kelalaian mukminin dan membuntuti aurat-aurat (rahasia-rahasia) mereka, maka dia (munafik) memperoleh jarahan yang diperoleh orang mukmin.” (HR. Ahmad dan lbnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan Abi Hurairah).

Kegembiraan mukminin beda dengan munafikin. Orang mukmin bergembira dengan selesainya Ramadhan karena telah memanfaatkan bulan itu untuk ibadah dan taat, maka dia mengharap pahala dan keutamaannya. Sedang orang munafik bergembira dengan selesainya bulan itu karena akan berangkat untuk bermaksiat dan mengikuti syahwat yang selama Ramadhan itu telah terkungkung.

Oleh karena itu orang mukmin melanjutkan kegiatan setelah bulan Ramadhan dengan istighfar, takbir dan ibadah, namun orang munafik melanjutkannya dengan maksiat-maksiat, hura-hura, pesta-pesta musik dan nyanyian karena girang dengan berpisahnya Ramadhan dari mereka. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, dan berpisahlah dengan Ramadhanmu dengan taubat dan istighfar.

Menutup Ramadhan

Wahai hamba Allah, termasuk hal yang disyari’atkan Allah dalam menutup Ramadhan yang diberkahi itu adalah shalat led dan membayar zakat fitrah sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas telah ditunaikannya kewajiban puasa. Sebagaimana Allah mensyari’atkan shalat Iedul Adha sebagai tanda syukur kepada-Nya atas penunaian kewajiban ibadah haji. Keduanya adalah Hari Raya Islam. Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau ketika datang di Madinah penduduknya mempunyai dua hari yang mereka itu bermain-main di hari itu, beliau bersabda:
“Sungguh Allah telah mengganti untuk kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik daripada keduanya, (yaitu) hari (raya) kurban dan hari (raya) fitri.”
Maka tidak boleh menambahi dua hari raya ini dengan mengadakan hari-hari raya baru yang lain. Hari raya dalam Islam itu disebut ied (kembali) karena dia it kembali dan berulang-ulang lagi setiap tahun dengan kegembiraan dan kesenangan, karena karunia yang telah Allah mudahkan berupa pelaksanaan ibadah puasa dan haji, yang keduanya itu adalah termasuk rukun Islam.

Dan karena Allah mengembalikan pada dua hari raya itu atas hambanya dengan kebaikan, dan membebaskan dari api Neraka. Sungguh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah memerintahkan khalayak umum, sampai wanita-wanita sekalipun, agar keluar untuk shalat ied. Kaum wanita disunnahkan menghadirinya tanpa pakai wewangian, tidak berpakaian dengan pakaian biasa dan pakaian yang menarik perhatian, dan tidak bercampur aduk dengan lelaki. Sedang wanita yang sedang haidh agar keluar untuk menghadiri da’wah (khutbah) dan dilarang mendirikan shalat.

Keluar untuk shalat ied itu adalah menampakkan syiar Islam dan menjadi suatu pertanda yang nyata, maka bersemangatlah untuk menghadirinya wahai orang yang dirahmati Allah. Karena sesungguhnya ied itu termasuk kesempurnaan hukum-hukum pada bulan yang diberkahi ini. Upayakanlah betul-betul untuk khusyu’, menjaga pandangan dan dari yang haram. Hendaklah menjaga lisan dan omong kosong, porno, dan bohong. Juga jagalah pendengaran dan mendengarkan perkataan yang tak karuan, nyanyian nyanyian, musik, dan mendatangi pesta-pesta, hura-hura dan permainan yang diadakan oleh sebagian orang bodoh. Karena seharusnya ketaatan itu diikuti dengan ketaatan pula, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu Nabi mensyari’atkan bagi ummatnya untuk menyambung puasa Ramadhan itu dengan puasa sunnat 6 hari di bulan Syawwal. Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan diikuti dengan (puasa sunnah) enam hari dari Bulan Syawwal maka seakan-akan ia berpuasa setahun.” (HR. Muslim).
Share:

9.07.2009

Maha KasihNYA ALLAH


Syaikh Abu Bakar Ad-Dharir bercerita, Bapakku termasuk orang miskin, dia berdagang bejana dari tanah liat. Aku mempunyai kakak perempuan. Aku sendiri buta.

Suatu malam aku terbangun, karena aku mendengar Bapakku berkata kepada Ibu, "Aku sudah tua, kamu juga, kamu tua dan lemah. Apa yang jauh dari kita telah dekat." Kemudian bapak bersyair,

Sesungguhnya seseorang yang berumur lima puluh tahun berarti dia telah mendekati sumur kematiannya.

Bapakku melanjutkan, "Anak perempuan kita, dia hidup sehat bisa membantu orang - orang. Tetapi bocah laki-laki kita ini, dia buta, tak ubahnya seperti seonggok daging. Kira-kira apa yang bisa dilakukannya."

Kemudian kudengar keduanya menangis. Keduanya terus menangis di malam itu dalam waktu yang cukup lama. Hatiku sangat sedih mendengarnya.

Pagi hari seperti biasa aku pergi ke halaqah. Tidak lama berselang seorang pesuruh khalifah datang dan berkata kepada ustadzku, "Ibu Permaisuri menyampaikan salam kepada ustadz, Beliau berkata, 'Bulan Ramadhan telah tiba. Aku menginginkan seorang bocah laki-laki yang belum baligh, bacaannya bagus, suaranya merdu, sebagai Imam shalat Tarawih."

Ustadz menjawab, "Bocah yang diinginkan Permaisuri memang ada pada kami namun dia seorang yang buta." Tak lama kemudian Ustadz memintaku pergi bersamanya. Utusan itu menuntunku. Kami berjalan sehingga kami sampai di rumah yang dituju. Dia meminta izin, maka Ibu Permaisuri memberi izin kepadaku untuk masuk. Aku masuk dan memberi salam. Aku mulai membaca. Aku membaca, Bismillahir Rahmanir Rahim, Ibu Permaisuri menangis. Aku meneruskan bacaan, tangisan Ibu Permaisuri makin bertambah.

Ibu Permaisuri berkata, "Aku belum pernah sekalipun mendengar bacaan seperti ini." Hatiku tersentuh, aku pun menangis. Dia bertanya mengapa aku menangis. Lalu aku ceritakan apa yang aku dengar dari Bapakku. Ibu Permaisuri berkata kepadaku, "Wahai anakku kamu akan mendapatkan apa yang tidak disangka-sangka oleh Bapakmu."

Ibu Permaisuri memberiku seribu dinar, dan dia berkata, "Ini untuk modal dagang Bapakmu dan untuk persediaan kakak perempuanmu. Aku telah memerintahkan abdiku untuk menyediakan gaji untukmu tiga puluh dinar setiap bulan." Di samping itu Ibu memberiku pakaian dan kendaraan yang bagus dengan pelana yang berhias.

Demikianlah cara Allah menyenangkan hati dan membagi rizky bagi hambaNYA yang lemah.

Dari Makarim al-Akhlak, Ali Shalih al-Hazza`
(Izzudin Karimi)

Share:

Takut akan tidak Halalnya sebuah apel


Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Wahai Tuan.. tolonglah diriku ini. Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimanakah gerangan rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim tetap bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Karena aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka."

Segera Tsabit pergi ke rumah pemilik kebun itu, perjalanan semalaman ditempuhnya dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia bertanya, "Apakah hanya karena aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan kata-katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Karena Tsabit sangat berharap kehalalan buah apel yang terlanjur dimakannya, Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhoiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan kebaikanku di sisi Allah Ta'ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum ?."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Mengapa ayahnya berkata kalau dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Selain itu Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh, tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir apa alasan ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Duhai istri jalinan hidupku, Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan oleh Allah". Lalu Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?" Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridho Allah. Apakah Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata lagi, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".

Perasaan Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan termasuk salah seorang wanita yang memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dan yang membuatnya lebih bangga dan bahagia lagi tentang istrinya, "Ketika membuka tirai yang menutupi wajah istrinya, dan Subhanallah… dia melihat wajah istrinya bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Dialah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.

Dudung.net
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Powered By Blogger

Slider

Hit Counter