Wadah berbagi Kisah, Pengetahuan, Ungkapan rasa, Cerita, dalam rangka memperkaya khasanah Iman untuk menggapai Syafa'at Baginda Rasululloh serta Hidayah dan Ridlo Illahi Robbi

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

12.08.2010

Selamat Tahun Baru Islam 1432 H



“Alhamdulillahirobbil’alamin…( Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam ).” Tanpa terasa, lembar demi lembar tahun telah kita lalui, hingga memasuki tahun baru 1432 H ini. Telah banyak perbuatan yang kita lakukan, telah bertumpuk tingkah yang telah kita torehkan dan telah pula tak terhitung kesenangan yang kita nikmati. Terimakasih yaa… Rabb atas indahnya hidup ini dan atas nikmat yang telah engkau berikan kepadaku.

Namun Yaa... Rabb…, telah banyak pula kesalahan yang telah kami lakukan, telah banyak perbuatan yang tanpa manfaat kita jalankan, telah banyak pula dosa – dosa yang tanpa kami sadari dan kami sadari, telah kita lakukan. Hanya kebesaranMu dan Kasih SayangMu yang bisa menyejukkan hati ini Ya.. Rabb…, tuk senantiasa mau duduk bersimpuh dan sujud mengharap Ridlo serta ampunanMu, Karena hanya Engkaulah Yaa.. Rabb… yang bisa menjaga segala langkah sesat kami, prasangka salah kami, dan perbuatan yang mengantarkan kami kearah nerakaMU.

Pangeran …Panjenengan… dandosi kulo niki
Lahir batin sarana… manah sae kang Suci.


Saudaraku...

Hari ini 1 Muharram 1432 H adalah tahun baru bagi umat Islam. Momentum tahun baru Hijriah ini harus kita jadikan sebagai sarana “hijrah dan instropeksi” menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam Islam disebutkan: ” Haasibuu qobla antuhaasabuu. Yang artinya hitunglah dirimu sebelum kamu sekalian dihitung(hisab)”.

Sebagai rasa syukur maka sebaiknya kita sebagai muslim yang taat memanfaatkan tahun baru ini sebagai sarana menginstropeksi diri, mengevaluasi diri, bermuhasabah atas segala perencanaan, perbuatan dan program hidup yang telah dilakukan di tahun sebelumnya, jadikan saat-saat seperti ini sebagai momen yang tepat bagi kita untuk selalu berkaca diri tentang amal-ibadah apa yang sudah kita capai dan hal apa saja yang masih kurang dalam diri kita. Sehingga nantinya bisa memperbaiki dan memperbaharui kekurangan-kekurangan kita di masa depan dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan untuk tidak kita ulangi lagi.

Allah menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai senda gurau dan permainan belaka. Sementara kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang sebenarnya. Artinya, Allah mengkondisikan kita untuk memandang dunia dengan santai tidak terlalu serius. Karena di dunia ini tidak ada keadaan yang benar-benar bisa dikatakan bahagia atau sebaliknya sedih. Di dunia ini tidak ada keberhasilan hakiki maupun kegagalan sejati. Segala sesuatu di dunia ini bersifat fana alias sementara. Kadang seseorang bahagia kadang seseorang sedih. Kadang ia berhasil kadang ia gagal. Itulah dunia dengan segala tabiat sementaranya.

Sebaliknya dengan kehidupan dunia, kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati. Tidak ada orang berbahagia di akhirat untuk jangka waktu singkat saja. Dan tidak ada pula yang mengalami penderitaan sementara saja, kecuali Allah menghendaki selain itu.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang kehidupan akhirat dengan penuh kesungguhan karena di sanalah kehidupan sejati akan dijalani manusia. Sedangkan terhadap dunia Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional saja dan tidak terlampau memaksa dalam meraih keberhasilannya. Sebab kehidupan dunia ini Allah ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main dan bersenda-gurau.

Namun dalam kehidupan kita dewasa ini kebanyakan orang malah sangat serius bila menyangkut urusan kehidupan dunia. Mereka siap mengerahkan tenaga, fikiran, dana dan waktu sepenuh hati serta jiwa untuk menggapai keberhasilan duniawinya. Sedangkan bila menyangkut urusan akhirat mereka hanya mengerahkan tenaga dan waktu yang tersisa, fikiran sampingan serta dana berupa recehan. Jika hal ini terjadi kepada kaum kafir alias tidak beriman kita tentu bisa maklumi. Tapi di dalam zaman penuh fitnah ini tidak sedikit saudara muslim yang kita saksikan bertingkah dan berpacu merebut dunia laksana kaum kafir. Allah memang menggambarkan bahwa kaum yang tidak beriman sangat peduli dan faham akan sisi material kehidupan dunia ini. Namun mereka lalai dan tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kehidupan akhirat.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7)

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat nanti manusia akan menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia menikmati kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu.

Saat manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya kehidupan di sana. Kesenangannya hakiki dan penderitaannya sejati. Surga bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu pula dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu kala. Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan deskripsi yang sangat kontras dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat pengalaman hidup di dunia yang menipu dengan kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di bawah ini:

“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia yang saat itu menjadi penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia yang menghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

Mengapa orang pertama ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah paksa dia merasakan derita sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau merasakan suatu kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah izinkan dia merasakan kesenangan hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Subhanallah walhamdulillah wal'aa ilaha illallah wallahu akbar, walahaula wala quwata illa billah...!!!

Saudaraku, sungguh kehidupan dunia ini sangat tidak pantas kita jadikan ajang perebutan dan perlombaan. Sebab menang di dunia pada hakikatnya hanyalah menang yang menipu. Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia hanyalah kalah yang menipu. Saat manusia diperlihatkan surga dan neraka di akhirat kelak, sadarlah ia betapa naifnya perlombaan merebut keberhasilan dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan hakiki dan abadi surga yang jauh labih patut ia kejar dan usahakan semaksimal mungkin. Sadarlah ia betapa lugunya ia saat di dunia berusaha mengelak dari segala derita dan kesusahan dunia jika dibandingkan dengan derita sejati dan lestari neraka yang jauh lebih pantas ia berusaha mengelak dan menjauh darinya.

Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

Ya Allah…, janganlah Engkau jadikan dunia puncak cita-cita kami dan batas pengetahuan kami.

Ya Allah… yang Maha Kasih, jangan Kau ciptakan manusia sepertiku, dengan penuh kemuliaan, tetapi kujalani hidupku dengan kenistaan.

Ya Allah… yang Maha Pengampun, jangan biarkan aku terlena oleh kenikamatan dunia namun setelahnya aku jatuh terpuruk ke dalam kenikmatan maksiat dan penuh dosa...

Ya Allah… yang Maha Besar, gugahlah kesadaranku untuk selalu beribadah kepadaMU, sehingga saat terdengar adzan diserukan bisa tersentuh hatiku untuk selalu memenuhi panggilanMu, dan jagalah diriku untuk tidak selalu menunda sholatku dengan menyibukkan diri dengan urusan diniawi, lebih mementingkan pekerjaanku, menonton acara TV kesukaanku dan pulas tidur saat subuh tiba.

Ya Allah… yang Maha Pemurah, permudahlah keikhlasanku untuk melakukan bersedekah, lapangkanlah sesuatu yang memberatkan dalam hati, dan masih berpikir –pikir untuk memilih-milih lembaran uang yang akan di shodaqohkan, padahal rejekiku itu sudah Engkau cukupkan dan gantikan untukku.

Ya Allah… yang Maha pemberi Berkah, gerakkanlah hatiku untuk senantiasa mengumandangkan Tilawah, agar jalan hidupku senantiasa terjaga oleh berkah Ayat – ayat Suci Al Qur'anMU yang kualunkan hingga akhir waktu.

Ya Allah… yang Maha Rahim, ampunilah segala dosa dan kesalahanku, belum cukup rasanya aku berbakti kepada Ayah dan bundaku tercinta, karena hingga saat ini aku belum dapat membuat mereka bahagia dan membuat senang hatinya, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar saja masih bisa terlupakan, yang ada memikirkan kesibukan sendiri.

Ya Allah… yang Maha memberikan Kemuliaan, jagalah diriku selalu untuk tidak membuat kecewa istriku, suamiku, anak-anakku, saudara-saudaraku, orang – orang yang kucintai, yang sangat kusayangi, yang hingga saat ini belum bisa kupenuhi bahkan kadang terlupakan kalau sebenarnya masih ada yang membutuhkan bantuanku.

Ya Allah... aku memang tidak semulia pada saat Engkau ciptakan, tetapi apakah aku masih dapat Engkau berikan kesempatan untuk terus berusaha mendapatkan kemuliaan itu kembali dihadapanMu sampai di akhir hidupku?

Ya Allah berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diriku ini, berikan aku kesempatan untuk lebih mendekatkan diriku padaMU. Ya Rabbi... berikan aku petunjuk agar aku selalu berada pada jalanMu yang engkau ridloi. Gerakkanlah hatiku untuk selalu berusaha merubah segala sikap, sifat dan perbuatanku yang telah salah selama ini, kepada orang-orang terdekatku, terutama mereka yang sangat aku kasihi, aku cintai dan aku sayangi.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, hanya kepada Engkau hamba memohon ampun, memohon pertolongan dan mohon kekuatan, semoga ditahun baru hijriyah 1432H ini hamba bisa jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, bimbinglah selalu… agar kami bisa menapaki hari demi hari berikutnya, dan dengan ijinMu ya Allah jadikanlah hari-hari hamba ini akan terus semakin lebih baik dan bisa menjadi yang terbaik dalam hidup hamba.

Amiiin… Amiiin... Amiiin… Ya Robbal ‘Alamin.

Selamat Tahun Baru 1432 H.
Share:

10.27.2010

Hikmah dari burung Beo



Sebuah kisah tentang seekor burung Beo yang dipelihara oleh seorang ulama (Kyai) di sebuah pesantren. Sang Kyai mengajari burung Beonya itu mengucapkan kalimat sapaan-sapaan islami termasuk kalimat Thoyyibah. Dan si Beo pun sangat familiar sekali mendengarkan dan mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, karena dia memang berada dilingkungan pesantren yang sangat islami, jauh dari mendengar perkataan-perkataan yang tidak senonoh.

Pada suatu ketika, sang Kyai lupa menutup kandang Beo tersebut setelah selesai memberi makan si Beo, dan tanpa disadari oleh Beliau ada seekor kucing telah mengintai si Beo tersebut. Dan si kucing pun dengan bebas menerobos masuk kandangnya dan mengigit si Beo tersebut dan memakannya.

Dalam ketakutan, kesakitan dan tidak bisa berdaya tersebut, si Beo itu hanya bisa berteriak "Keak....keak... keak..." hingga suaranya terdengar oleh sang kyai. Beliau segera bergegas menuju suara tersebut, dan sesampainya dikandang, dilihatnya si Beo telah mati digigit oleh sang kucing keluar dari kandangnya.

Sejenak sak Kyai terpekur melihat kejadian tersebut dan menangis sejadinya, kemudian Beliau begegas masuk kamar nya dan mengunci diri hingga beberapa hari. Para santri pun heran kenapa sang kyai berbuat seperti itu, begitu sedihnya ditinggal mati beonya ?. Padahal selama ini Beliau selalu bertutur bahwa musibah, malapetaka dan kematian itu hanya Allah lah yang mengatur, kita sebagai hambanya harus senantiasa bertawakal kepadaNYA.

Ditengah ketidakpastian tersebut, para santri berembuk dan merekapun setuju untuk mengirim seorang utusan, menemui kyai nya untuk bertanya apa sebenarnya yang disedihkan oleh Kyai tersebut, masak hanya karena ditinggal mati oleh si Beo tersebut sang Kyai jadi amat sangat bersedih sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar pada mereka.

Begitu utusan tersebut diperbolehkan menghadap, utusan tersebut dengan santun dan rasa hormat menyampaikan uneg-unegnya "Pak Kyai.... sebelumnya kami memohon maaf jika pertanyaan kami dianggap lancang, namun kami juga bersedih jika Kyai mengurung diri terus di kamar dan tidak lagi mengajarkan ilmu kepada kami, jika kami boleh tahu.. apa sebenarnya yang menyebabkan pak Kyai begitu sangat bersedih.., kalau itu dikarenakan matinya si Beo, kami semua sanggup membelikan puluhan beo-beo lain untuk Pak Kyai, sehingga Pak Kyai dapat menghilangkan kesedihan dan mengajar kami kembali".

Seraya menghirup napas dalam-dalam, sang Kyai menjawab: "Santri - santriku tercinta... bukan kematian Beo itu yang sangat aku sedihkan, tetapi hikmah dari Allah SWT. yang terkandung dalam peristiwa itu yang membuat aku sangat ketakutan".

"Hikmah apakah yang Pak Kyai maksudkan ? " sambung para santri serempak.

"Si Beo yang berada di lingkungan kita ini, insya Allah tidak pernah melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, apalagi maksiat. Bahkan telah aku ajarkan pada Beo itu kata-kata yang baik khususnya kalimat Thoyyibah, tetapi ketika ia meregang nyawa, dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun kalimat tersebut, selain hanya suara "keak...keak.." yang kudengarkan dari mulutnya.

Dari peristiwa tersebut aku jadi berfikir, dan yang membuatku bersedih adalah bagaimana dengan nasibku dan kalian-kalian semua, apakah sama dengan nasib si Beo tersebut. Meskipun hampir setiap nafas kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik, termasuk kalimat Thoyyibah, tetapi dapatkah kita menjamin bahwa kita nanti mampu mengucap ”LA ILAHA ILLALLAH” ketika sang malaikat maut menjemput kita ???
Wallahualam

Semoga sepenggal kisah diatas bisa dijadikan renungan bagi kita ..... (Limyei)
Share:

9.24.2010

Taqwa merupakan Kunci Sukses dan Kejayaan

Minal Aidzin Wal Faidzin, Kami sekeluarga menghaturkan Mohon Ma'af Lahir dan Batin, semoga segala amal ibadah kita selama Ramadhan senatiasa mendapatkan Ampunan, Ridlo dan Rahmat dari Allah SWT., dan ditambahkan pada kita derajat Taqwa

Kami juga mohon ma'af sebesar - besarnya karena selama puasa Ramadhan kami belum bisa hadir untuk menemani panjenengan semua. Berkaitan dengan "Taqwa" ulasan Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas berikut ini, yang menyatakan bahwa Taqwa merupakan kunci sukses dan kejayaan dunia, patut diperhatikan, Semoga artikel berikut ini bermanfaat.




Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas


Rizqi yang Berkah

Allah SWT berfirman, ‘Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.’ – QS An-Naba (78): 10-11.

Allah SWT telah menjadikan siang hari untuk mencari nafkah, sedangkan malam hari untuk istirahat. Allah memberikan jalan kepada kita untuk mencari nafkah, tapi jangan lupa kaidah untuk mencari nafkah, karena sering kali kita menomor sepuluhkan Allah pada saat berurusan dengan urusan duniawi kita.

“Dalam kehidupan seperti saat ini yang penuh dengan ujian, kesulitan, kesusahan, baik yang dialami oleh individu maupun masyarakat nasional, banyak menimbulkan rasa kegelisahan terkadang keputusasaan, bahkan hingga melahirkan rasa iri, dengki, dan akhirnya membawa kepada perbuatan menghalalkan segala cara.

Saat ini banyak muslim yang terkadang sudah bosen menjadi orang Islam. Bila dulu, setelah ashar maupun maghrib, anak-anak sudah duduk rapi untuk mengaji atau pergi ke mushalla, saat ini maghrib hingga isya, anak belum pulang tidak ada masalah.

Kenapa bisa kita sebut bosen dengan Islam! Karena dalam keseharian kita sudah melupakan dan tidak menggunakan tata cara kehidupan yang Islami. Ibadah diabaikan, shalat ditinggalkan, mengaji dilupakan. Pulang kerja langsung nonton bola, jam tiga pagi masih di depan bola, padahal belum shalat Isya, lalu ketiduran, shalat Subuh pun lewat, setelah itu bangun dan langsung bekerja. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan lebih penting daripada Allah SWT. Akibatnya, tidak ada lagi keberkahan pada apa yang kita cari dan kita dapatkan.

“Allah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari nafkah dan malam sebagai waktu untuk beristirahat. Pada malam hari ada sesuatu yang paling indah, yaitu masa untuk mendekatkan diri kepada Allah, terutama di saat kebanyakan manusia lelap tertidur. Kita bangun untuk mengadu dan bermunajat kepada Allah. Maknanya, bila seseorang menggunakan semua waktunya, siang dan malam, untuk mencari materi, akan hilang keberkahannya. Materi boleh semakin bertambah, tapi keberkahan hilang dari kehidupannya.”

Allah SWT berfirman, ‘barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” – QS Ath-Thalaq (65): 2-3.

Ayat ini memberikan petunjuk bagi setiap umat Rasulullah SAW. Dalam keseharian, seorang muslim bergaul sebagai insan biasa, namun di saat Allah memanggil, ia tampil paling pertama untuk menunaikannya.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyususun Ratib Al-Haddad dan al-Wird al-Lathif, berkata, ‘Dunia bukanlah merupakan tanah airmu, melainkan hanyalah persinggahan untuk menuju negeri yang sebenarnya (akhirat).’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman.’ Tanah air kita yang sebenarnya adalah akhirat, sehingga makna hadits ini adalah agar kita selalu merindukan negeri akhirat, karena dunia ini bukanlah negeri kita. Nabi Adam oleh Allah diciptakan di surga lalu turun ke bumi. Itulah yang membuktikan, bahwa bumi ini bukanlah negeri kita.

Taqwa kunci Sukses dan Jaya

Berikut adalah contoh cerita yang bisa kita ambil pelajaran dari ketaqwaan orang-orang pilihan Allah.

Pada sa’at Al-Habib Syech Abu Bakar bin Salim, sedang menjelaskan tentang makna surat Ath-Thalaq: 2-3, ada dua orang jama’ah nyeletuk di belakang, ‘Apa memang itu bener Syech ?’

Lalu Habib Syech berkata kepada salah seorang muridnya, ‘Hai muridku, di belakang ada 40 karung kurma yang paling jelek di Hadramaut, yang nilainya tidak lebih dari empat dinar. Juallah kurma itu ke Irak, dan juallah satu butir kurma seharga satu dinar dan jangan kurang dari satu dinar per butirnya. Aku ingin membuktikan bahwa janji Allah itu benar.’

Selama dalam perjalanan murid-murid Habib Syech terus dilanda kebingungan dan keheranan. Bagaimana mungkin kurma yang paling buruk akan dijual satu dinar per butir, sementara kurma Irak saja, yang bagus harganya satu dinar per kilonya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa lama, murid-murid Habib Syech tiba di suatu daerah di Irak. Ternyata daerah tersebut tengah dilanda wabah penyakit yang ganas. Tiba-tiba datang seorang anak kecil, yang menderita penyakit, yang sedang mewabah di daerah itu, menghampiri mereka dan melihat-lihat kurma yang ada di karung. Karena merasa tertarik, ia pun meminta kurma yang ada di karung.

Sebutir kurma dikeluarkan dan diberikan kepada anak tadi. Subhanallah, dengan izin Allah, beberapa saat kemudian anak itu sembuh dari penyakitnya.

Karena begitu gembira, anak itu pun berlari-lari di pasar sembari meneriakkan bahwa ada kurma yang dapat menyembuhkan penyakitnya.

Tidak lama kemudian orang-orang datang berduyun-duyun untuk membeli kurma tersebut. Namun sebelumnya murid-murid Habib Syech menjelaskan, bahwa kurma itu hanya dijual dengan harga satu dinar per butir. Namun meski dihargai dengan harga yang tidak wajar, mereka berebut untuk membelinya, hingga tak berapa lama kurma-kurma itu pun telah habis terjual seluruhnya, sementara murid-murid Habib Syech hanya terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut, demikianlah karamah Habib Syech.

Setelah rombongan pembawa kurma kembali ke Hadramaut dengan membawa hasil dagangan yang sangat besar, Habib Syech berkata, ‘Inilah janji Allah kepadaku. Sekarang bagikanlah!’

Demikianlah karena kekuatan keyakinan Habib Syech kepada Allah SWT. Maka Allah buktikan janji-Nya. Bagaimana dengan kita yang hanya selalu bisa mengucapkan tetapi tidak melakukan. Dalam setiap shalat, pasti kita baca, ‘Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).’ Tapi dalam keseharian kita, baik na`budu maupun nasta`in kita lupa.

Kunci menuju Kesuksesan

Kunci dari semua kesuksesan itu adalah ‘wa`budullah’, ‘sembahlah Allah’. Dimana kesuksesan dan kejayaan akan lebih mudah dicapai bila kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Karena kesuksesan dan kejayaan bisa terwujud hanya dari ridlo Allah SWT, bukan karena dari manusia itu sendiri. Karena kejayaan atau jabatan yang berasal dari manusia akan mudah jatuh, pupus, dan hilang, tetapi kejayaan dan kesuksesan yang Allah berikan, tidak ada seorang pun yang dapat meruntuhkannya.

Demikian pula sebuah hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau hidup untuk selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari’.”

Adapun beberapa amalan yang bisa kita lakukan agar dimudahkan rizqi, dimudahkan segala urusan, dan mendapatkan keberkahan, yaitu istiqamahkan membaca surah Thaha dan Al-Waqi`ah bakda shalat Subuh diakhiri dengan shalat Dhuha. Dan bagi yang tidak mampu melakukannya, dapat mengamalkan membaca surah Al-Quraisy sebanyak sebelas kali setiap ba`da subuh dan sesudah ashar, sebagaimana yang diijazahkan oleh Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri.

Sumber : Majalah alKisah
Share:

8.06.2010

Rindu Ramadhan



Saudaraku yang di Rahmati Allah…

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai penghulu daripada bulan-bulan setahun dan melipat gandakan pahala kebaikan di dalamnya. Tak lupa Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membawa risalah Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh bagi manusia.

Tak terasa kita telah dipenghujung bulan Sya’ban, dimana tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Suci Ramadhan. Dan insya Allah untuk kesekian kalinya tamu agung tersebut akan berkunjung diantara rangkaian usia kita. Bulan suci yang Agung dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan kepada khalayak sebagai berita suka cita.

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki)

Kabar gembira tersebut pun disambut gembira. Sampai-sampai para ulama salaf berdoa untuk dipertemukan dengan bulan Ramadhan enam bulan sebelumnya. Karena begitu cintanya mereka pada bulan mulia tersebut, mereka amat takut jika tahun tersebut mereka tidak dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan.

Bagaimana dengan kita? Adakah rasa rindu itu hadir meski secuil di hati? Adakah sebentuk harapan meski sesekali? Atau malah sebaliknya, justru dalam bayangan kita akan datang bulan yang akan “mengekang, mengebiri bahkan mengunci” kemerdekaan syahwat kita selama bulan suci tersebut? Sehingga Ramadhan seakan – akan menjadi momok yang menakutkan karena nafsu kita tidak bisa terlampiaskan sepuasnya digantikan dengan rasa lapar sepanjang hari? tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka. Bahkan sering kali kita dengar guyonan, joke atau apalah namanya yang mengajak untuk habis- habisan bersenang – senang mereguk maksiat mumpung belum memasuki bulan ramadhan?! Naudzubillahi min dzalik....

Saya berdo’a untuk saudara- saudaraku semua, bahwa Anda adalah Para Perindu dan Pecinta Ramadhan, yang selalu berharap – bermunajad agar pintu Jasmani, Ruhani, Qolbu Anda terbuka lebar untuk menyambutnya, memuliakannya dan mereguk nikmatnya dengan suka cita, berenang dalam berkah, rahmat dan ampunanNYA. Agar nikmat dan keberadaan Ramadhan ini bisa sampai hingga meresap dan menyatu dengan kita dan juga sesuai dengan harapkan kita, Sehingga menjadi pribadi yang dirindukan oleh Indahnya bau Syurga, Amiiin...

Untuk itu kiranya perlu kita perhatikan dhawuh dari beberapa Kyai Sepuh yang saya terima dan bisa saya bagikan kepada Saudaraku semua, semoga menjadikan pengetahuan yang bermanfaat. Karena ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, koreksi dan benahi dalam diri kita, ( mohon ma’af untuk yang sudah mengerti, mengetahui dan memahami, semoga bisa menjadi penambah tebalnya keyakinan iman serta ketaqwaan kita dan bagi yang tidak berkenan maka hiraukanlah tulisan ini)

Pertama : Sambut Ramadhan dengan Bersih dan Suci dari segala najis.

Bulan Ramadhan disebut juga bulan suci karena pada bulan tersebut memiliki keistimewaan bahwa Sang Maha Pemilik Kesucian dan Pemilik Cinta mengamati langsung kegiatan kita serta mencatat langsung segala amal ibadah dan perbuatan kita tanpa perantara Para Malaikat, untuk itu bagi umat yang Cinta akan kehadiran Pangeran Cintanya dan ingin selalu dekat denganNYA, sudah seharusnyalah kita menyambutnya dengan kondisi suci dari :

  • Najis Mukhoffafah (Najis Ringan)
    Najis mukhoffafah atau najis ringan misalnya : terkena air kencing bayi yang umurnya belum dua tahun dan belum makan sesuatu selain dari susu ibunya (susu yang dicampur gula atau tepung itu hukumnya seperti selain susu).

  • Najis Mugholladzoh (Najis Berat)
    Najis mugholladhoh atau najis berat misalnya terjilat anjing dan babi dan keturunan dari keduanya atau salah satu dari keduanya.

  • Najis Mutawassitah (Najis Sedang)

    Najis mutawasitah adalah najis selain dari najis mukhoffafah dan najis mugholladzoh.


  • Selain dari yang sudah umum diketahui tersebut, masih ada beberapa yang tergolong najis yang harus dibersihkan dari diri kita yaitu :


  • Pandangan Mata
    Menghindar dan menjauhkan dari pandangan mata terhadap hal – hal yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Pendengaran
    Menghindar dan menjauhkan diri dari mendengarkan hal – hal yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Perbincangan
    Menjauhi serta menahan diri dari menggunjing, berkata kotor, keji, tercela dll. yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Jangkauan
    Menjauhi dari mengambil yang bukan menjadi hak nya atau mengambil sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Langkah
    Menghindari dan menjauh dari langkah – langkah yang mengajak kepada maksiat dan sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Harta
    Mensucikan diri dari pendapatan dan penghasilan yang tidak halal atau dilarang dan diharamkan oleh Allah.

  • Pakaian
    Menjaga pakaian senantiasa bersih dan suci dan menghindari dari pakaian yang dibeli dari harta yang tidak halal dan diharamkan oleh Allah.

  • Hati
    Menjaga dan menjauhkan hati kita dari berbuat ujub, riya’, sombong, iri, dengki, hasut, nafsu untuk melakukan maksiat dll. serta yang diharamkan oleh Allah.

  • Aktifitas
    Menghindari dan menjauhkan diri dari aktifitas atau kegiatan yang miskin manfaat. Misalnya main game seharian? Inget lho, meski aktivitas itu tergolong mubah alias boleh-boleh saja dilakukan, tapi kalo seharian gimana urusannya? Dan beberapa aktifitas yang diharamkan oleh Allah.


Kedua : Sambut Ramadhan dengan Permohonan Ma’af

Semua manusia pasti tidak terlepas dari kesalahan dan dosa, untuk mengurangi bahkan menghapusnya maka kita harus memohon ma’af kepada siapapun yang pernah kita sakiti bahkan kita benci, atau kepada siapapun yang pernah dekat dengan kita, karena siapa tahu kita telah melakukan kesalahan yang tanpa kita ketahui dan kita sengaja. Karena Keistimewaan bulan Ramadhan adalah merupakan bulan dimana Sang Pemilik Ampunan akan memberikan segala ampunannya. Agar ampunan tersebut tidak terganjal maka kita harus memohon maaf terhadap sesama terutama :

  • Orang Tua
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani).

  • Saudara, Sahabat dan Teman
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).


Ketiga : Berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan

Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia menikmati indahnya bulan Ramadhan, dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, “Allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.

Keempat : Sambut Ramadhan dengan Taubat.

“Setiap manusia tidak akan terlepas dari dosa dan sebaik-baiknya adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah.
Kita sambut Ramadhan dengan memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu. Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya.

Kelima : Bersyukur pada Allah

Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan Nya. ” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
Demikian semoga tulisan ini bermanfaat dan mudah-mudahan kita dipertemukan dengan Ramadhan dan mendapatkan banyak keutamaan didalam bulan yang istimewa tersebut, Amiin...

Marhaban yaa.. Ramadhan. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1431 H.
Wallahu ‘alam bi shawab. *(Mas Aan)*
Share:

7.13.2010

Sudah Siapkah Kita Menyambut Ramadhan ???



Saudaraku yang di Rahmati Allah

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kita akan segera memasuki bulan Ramadhan. Ada yang menyambutnya dengan gembira karena merasa ini adalah momentum terbaik bagi gugurnya dosa, meningkatnya derajat pahala dan tersambungnya kembali jalinan silaturahim. Bulan penuh berkah, bulan penuh rahmah, bulan kembali kepada alquran dan ibadah. Dan semua umat Islam berharap seandainya setiap bulan merupakan bulan Ramadhan, alangkah nikmatnya.

Di sisi lain, ada juga sebagian dari kita yang biasa-biasa saja menyambut Ramadhan, tidak ada perasaan sedikitpun yang istimewa dari bulan Ramadhan. Padahal Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa, agar kita bisa dipertemukan dengan nikmatnya bulan Ramadhan.

“Ya Allah SWT berkatilah kami di bulan Rajab, berkatilah kami di bulan Sya'ban dan ijinkanlah kami untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.”

Subhanallah, itulah keistimewaan Ramadhan sampai - sampai Rasulullah memohon kepada Allah seperti itu, karena kita tidak pernah tahu, apakah umur kita akan sampai ke bulan yang penuh berkah itu ?, Kami semua berdo’a semoga Allah memberikan kita umur panjang hingga bisa menikmati Indahnya bulan Ramadhan, Amin yaa Robbal’alamin.

Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, setiap muslim wajib membekali dirinya dengan persiapan maksimal yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, agar secara lahir dan batin kita lebih siap melaksanakan ibadah dalam bulan Ramadhan.

Saat akan datangnya bulan Ramadhan seorang muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan keilmuan dan pemahamannya mengenai apa yang mesti diperbuat dan dihindari selama bulan Ramadhan. Agar pahala Puasanya tidak berkurang bahkan hilang.

Diantara persiapan tersebut adalah :

Pertama, I'dad Ruhi Imani yakni persiapan ruh keimanan. Dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedhaliman sejak memasuki bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain diperbolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab iman kita sudah dijaga dan terus ditingkatkan. Dengan kata lain bulan Rajab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up) sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan kita sudah siap seperti hari biasanya dan serasa tidak ada hambatan apapun.

Kedua, adalah I'dad Jasadi yakni persiapan fisik. Seorang muslim membutuhkan kondisi fisik yang prima. Apabila kondisi fisiknya lemah, seorang muslim tidak akan dapat menjalankan berbagai rutinitas ibadah yang penuh dengan kemuliaan -kemuliaan yang dilimpahkan Allah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, pada bulan Rajab Nabi Muhammad SAW dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, memperbanyak membaca al-Qur'an, membiasakan bangun malam (qiyamul-lail) dan meningkatkan urusan dunia (mencari nafkah) untuk persiapan memperbanyak kegiatan sedekah pada bulan Ramadhan.

Ketiga, adalah I'dad Maliyah yakni persiapan harta. Jangan salah mengerti tentang persiapan harta, maksud persiapan harta disini bukan untuk membeli keperluan makanan buka puasa atau bermacam kue-kue lebaran sebagaimana yang menjadi tradisi kita selama ini, namun semata – mata untuk persipan melipatgandakan kegiatan sedekah, karena pada bulan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibanding bulan biasa.

Keempat, adalah I'dad Fikri wa Ilmi yakni persiapan fikiran dan ilmu. Agar ibadah di bulan Ramadhan dapat lebih optimal, sehingga butuh wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan, sehingga ibadah Ramadhan kita dapat sempurna sesuai tuntunan Rasulullah. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan ramadhan, memperdalam berbagai masalah dalam ilmu fiqih tentang puasa dan lain-lain juga penting dilakukan.

Sehingga Ketika Ramadhan tiba kita sudah menuju pada proses pendewasaan ruhani, dimana kebiasaan ibadah meningkat, semangat berdzikir bertambah, semakin cinta shalat berjamaah, melaksanakan aktivitas-aktivitas infak, shadaqah dengan lebih ikhlas, menahan lapar, haus, seksual, mulai fajar hingga terbenam matahari dengan mulus bisa dilalui. Hingga membaca Alquran sampai khatam (tamat) bisa dinikmati dengan semangat membara. Hal yang wajar jika amaliah di bulan suci Ramadhan begitu spektakuler dilaksanakan kaum muslimin. Karena inilah merupakan suatu proses tercapainya derajat taqwa yang akan membawa kepada kesuksesan dunia maupun akherat.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Baqarah ( 2: 185 ) yang berbunyi:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Share:

3.26.2010

Mendidik Anak TANPA Kekerasan


Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua? Apa musti dipukul dulu baru nurut?”. Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan?”. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.

Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata ”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00!!!

Dengan gelisah ayah menanyai saya ”Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.

Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.

Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter)? Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.

Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab”? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?

Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi?

Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.

Wish you become the best parents in the world !

Ariesandi dan Sukarto
(http://sayanganak.com)
Share:

2.16.2010

Hal yang Membuat Rizky tidak Lancar


Allah SWT menciptakan semua makhluk benar-benar sempurna, bahkan hingga sampai kepada pembagian rezekinya Allah sangat memperhatikan. Allah juga menjamin bahwa tidak ada satu pun mahluk di jagat raya ini yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Allah menjamin pemenuhan rezeki ini. Sekarang pertanyaan nya adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih ekstrim lagi adalah sudah benar atau tidakkah cara mendapatkannya. Dan perlu diketahui bahwa rezeki yang dimaksud di sini tentu bukan hanya sekadar uang, ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan namun ketaatan pada Allah itu juga merupakan bagian dari rezeki, bahkan takaran nilainya jauh lebih tinggi dibanding uang.

Banyak kita jumpai orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Ada yang mengeluh kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya bisnis saya gagal terus ?” “Mengapa ya hati saya tidak pernah tenang?” Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lainnya. Namun semua tidak menyadarinya, bahwa ada banyak penyebab tidak lancarnya rezeki mengalir ini, diantaranya adalah mungkin cara kita mencari yang kurang profesional, atau kurang serius mengusahakan nya, dan ada pula kondisi-kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki ini. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tidak lancar? Dan apa saja yang menjadi penyebabnya?

Saudaraku, Allah adalah satu-satunya Dzat yang Maha Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi lancarnya aliran rezeki ini :

Pertama, Lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita telah berharap dan menggantungkan diri kepada selain kepada Allah, Atau kita sudah berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah telah menyatakan bahwa Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Maka jika pada suatu ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Dan sebaliknya barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya, dan dari arah yang tidak disangka-sangka. Demikian janji Allah dalam QS: Ath Thalaaq [63] ayat 3.

Kedua, Adanya dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan. Dosa ternyata merupakan penghalang datangnya rezeki. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya seseorang akan terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Nah bagaimana agar dosa ini supaya tidak menyumbat aliran rezeki kita, maka tobatlah jawaban sebagai pintu pembukanya. Andai kita mau menyimak, ternyata didalam do’a minta hujan itu isinya adalah permintaan tobat, bahkan isi do’a Nabi Yunus pun saat berada dalam perut ikan ternyata juga adalah permintaan tobat, demikian pula isi permohonan do’a ketika meminta dikaruniai anak dan pada saat Lailatul Qadar ternyata adalah permohonan tobat. Karena itu bila rezeki terasa seret, maka perbanyaklah tobat dengan hati, ucapan, dan perbuatan kita.

Ketiga, Kesalahan dalam mencari nafkah. Selama ini banyak dari kita belum menyadari apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah termasuk kategori halal menurut agama? Kalau toh memang halal, apakah sudah benar dalam mencari dan menjalaninya? Perhatikan selalu hal ini. Apabila terjadi kecurangan sekecil apapun dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (baik korupsi waktu maupun uang), manipulasi timbangan, praktik mark up dan sebagainya, itu akan sangat berdampak pada rezeki kita menjadi tidak berkah. Mungkin uang bisa kita dapatkan , namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Bagaimanakah mengetahui ciri rezeki tersebut tidak berkah, diantaranya adalah mudahnya rezeki tersebut menguap untuk hal yang sia -sia, atau hasil yang kita peroleh tidak membawa ketenangan sehingga sulit dipakai untuk taat kepada Allah bahkan ada yang sampai menjadi biang penyakit. Bagaimana bila sudah terlanjur melakukannya, syaratnya hanyalah segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, Pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Saudaraku... cobalah setiap hari biasakan kita bertanya pada diri kita, apakah pekerjaan yang kita lakukan selama ini membuat hubungan kita dengan Allah semakin dekat ataukah malah makin menjauh? Jangan – jangan kita terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau sering kali jadi telat), bahkan mungkin juga sudah lupa membaca Al-Qur’an, atau ada juga yang sampai lupa mendidik keluarga, jika ini sampai terjadi maka ini lah sinyal-sinyal bahwa pekerjaan yang kita lakukan tidak membawa berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya menurut Rasulullah kita bekerja itu membuat kita semakin bersyukur dan semakin dekat dengan Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai kewajiban kita kepada Allah kita abaikan.

Kelima, Malas bersedekah. Siapa pun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya pasti irit. Sebaliknya dengan sedekah akan bertambah berkah, penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Bahkan Allah menekankan betapa pentingnya bersedekah. Sedekah itu bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada tiap-tiap bulir itu akan terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Maha kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Jika tertarik maka mari kita langgengkan amalan pada diri kita bahwa tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan dengan senang hati membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin. Walllahu’alam
Share:

2.12.2010

Apresiasi Rasulullah Pada Orang Bekerja



Dalam sejarah Islam, semua Nabi bekerja untuk kehidupannya. Ini untuk menunjukkan bahwa para nabi bukan Rabi atau Pendeta yang dicukupi kehidupannya dari umatnya.

”Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah di usahakannya”.(QS An-Najm [53]: 39)

Sehari-hari para Nabi giat bekerja. Ingat bagaimana kisah Musa AS yang bekerja pada Nabi Syuaib atau Nabi Daud sebagai pengrajin, Nabi Yusuf sebagi pengawas gudang, dan tak terkecuali Nabi junjungan kita Muhammad SAW yang menjadi pengembala maupun pedagang pada sebelum kenabian dan mengerjakan banyak pekerjaan kasar lain setelah masa kenabian.

Para Nabi diperintahkan Allah bekerja keras untuk memperoleh kehidupan yang baik. Dimana di balik pesan itu Allah mempunya misi bahwa betapapun mulia seorang Nabi, mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kehidupannya, sebagai contoh dan teladan terbaik bagi umatnya. Sebagaimana diketahui Rasulullah SAW memaknai bekerja bukanlah sekadar untuk mencari uang, kekayaan, dan kemuliaan duniawi semata. Namun lebih dari itu, Rasulullah SAW menempatkan bekerja sebagai wujud aktualisasi keimanan dan ketakwaan dalam koridor ibadah semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Bahkan Putri Nabi sendiri yaitu Fatimah az Zahra pernah suatu hari kehabisan gandum, sementara anak-anaknya butuh makan dan ada yang jatuh sakit. Sedang kondisi pada saat itu sepeserpun dia tidak memiliki uang . Pergilah Fatimah ke pemilik toko dan bertanya apakah ada pekerjaan yang bisa dia lakukan, maka didapatinya pekerjaan menumbuk gandum untuk dibuat roti dan hasilnya bisa untuk mencukupi makan hari itu bersama anaknya.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Ath-Thabrani, dikisahkan ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya,"Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya." Mendengar itu Rasul pun menjawab,"Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah" (HR Ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain juga diceritakan, suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa'ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. "Kenapa tanganmu?" tanya Rasul kepada Sa'ad. "Wahai Rasulullah," jawab Sa'ad,"Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku". Seketika itu beliau mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata,"Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka".

Inilah apresiasi yang Rasulullah SAW berikan kepada orang yang mau bekerja keras, gigih, dan semangat mencari rezeki di jalan Allah SWT. Beliau tidak melihat apa jenis pekerjaannya, asalkan halal, tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama, dan diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT. Juga Rasulullah tidak melihat siapa orangnya, sampai-sampai pada riwayat di atas manusia teragung ini rela mencium tangan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari yang melepuh lagi gosong tersebut.

Islam sendiri mengajarkan, untuk mendapatkan rezeki yang Allah SWT tebar di muka bumi ini, hendaklah tiap individu berusaha sekuat tenaga, sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Yang selanjutnya, hasilnya kita bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan artian pasrah diri tanpa usaha dan tidak bekerja, namun semampu mungkin potensi yang ada kita maksimalkan untuk meraih rezeki tersebut. Nabi Muhammad SAW, dalam salah satu hadisnya yang lain juga mengatakan,“Jika kalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang. ”

Hadis di atas pada dasarnya berisikan motivasi agar kita gigih bekerja, bahkan jika perlu meninggalkan tempat tinggal pagi hari untuk mencari nafkah, bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di kediaman menunggu tersedianya kebutuhan hidup. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

(Aan, dari berbagai sumber)
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Powered By Blogger

Slider

Hit Counter