Wadah berbagi Kisah, Pengetahuan, Ungkapan rasa, Cerita, dalam rangka memperkaya khasanah Iman untuk menggapai Syafa'at Baginda Rasululloh serta Hidayah dan Ridlo Illahi Robbi

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

2.16.2010

Hal yang Membuat Rizky tidak Lancar


Allah SWT menciptakan semua makhluk benar-benar sempurna, bahkan hingga sampai kepada pembagian rezekinya Allah sangat memperhatikan. Allah juga menjamin bahwa tidak ada satu pun mahluk di jagat raya ini yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Allah menjamin pemenuhan rezeki ini. Sekarang pertanyaan nya adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih ekstrim lagi adalah sudah benar atau tidakkah cara mendapatkannya. Dan perlu diketahui bahwa rezeki yang dimaksud di sini tentu bukan hanya sekadar uang, ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan namun ketaatan pada Allah itu juga merupakan bagian dari rezeki, bahkan takaran nilainya jauh lebih tinggi dibanding uang.

Banyak kita jumpai orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Ada yang mengeluh kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya bisnis saya gagal terus ?” “Mengapa ya hati saya tidak pernah tenang?” Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lainnya. Namun semua tidak menyadarinya, bahwa ada banyak penyebab tidak lancarnya rezeki mengalir ini, diantaranya adalah mungkin cara kita mencari yang kurang profesional, atau kurang serius mengusahakan nya, dan ada pula kondisi-kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki ini. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tidak lancar? Dan apa saja yang menjadi penyebabnya?

Saudaraku, Allah adalah satu-satunya Dzat yang Maha Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi lancarnya aliran rezeki ini :

Pertama, Lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita telah berharap dan menggantungkan diri kepada selain kepada Allah, Atau kita sudah berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah telah menyatakan bahwa Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Maka jika pada suatu ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Dan sebaliknya barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya, dan dari arah yang tidak disangka-sangka. Demikian janji Allah dalam QS: Ath Thalaaq [63] ayat 3.

Kedua, Adanya dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan. Dosa ternyata merupakan penghalang datangnya rezeki. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya seseorang akan terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Nah bagaimana agar dosa ini supaya tidak menyumbat aliran rezeki kita, maka tobatlah jawaban sebagai pintu pembukanya. Andai kita mau menyimak, ternyata didalam do’a minta hujan itu isinya adalah permintaan tobat, bahkan isi do’a Nabi Yunus pun saat berada dalam perut ikan ternyata juga adalah permintaan tobat, demikian pula isi permohonan do’a ketika meminta dikaruniai anak dan pada saat Lailatul Qadar ternyata adalah permohonan tobat. Karena itu bila rezeki terasa seret, maka perbanyaklah tobat dengan hati, ucapan, dan perbuatan kita.

Ketiga, Kesalahan dalam mencari nafkah. Selama ini banyak dari kita belum menyadari apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah termasuk kategori halal menurut agama? Kalau toh memang halal, apakah sudah benar dalam mencari dan menjalaninya? Perhatikan selalu hal ini. Apabila terjadi kecurangan sekecil apapun dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (baik korupsi waktu maupun uang), manipulasi timbangan, praktik mark up dan sebagainya, itu akan sangat berdampak pada rezeki kita menjadi tidak berkah. Mungkin uang bisa kita dapatkan , namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Bagaimanakah mengetahui ciri rezeki tersebut tidak berkah, diantaranya adalah mudahnya rezeki tersebut menguap untuk hal yang sia -sia, atau hasil yang kita peroleh tidak membawa ketenangan sehingga sulit dipakai untuk taat kepada Allah bahkan ada yang sampai menjadi biang penyakit. Bagaimana bila sudah terlanjur melakukannya, syaratnya hanyalah segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, Pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Saudaraku... cobalah setiap hari biasakan kita bertanya pada diri kita, apakah pekerjaan yang kita lakukan selama ini membuat hubungan kita dengan Allah semakin dekat ataukah malah makin menjauh? Jangan – jangan kita terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau sering kali jadi telat), bahkan mungkin juga sudah lupa membaca Al-Qur’an, atau ada juga yang sampai lupa mendidik keluarga, jika ini sampai terjadi maka ini lah sinyal-sinyal bahwa pekerjaan yang kita lakukan tidak membawa berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya menurut Rasulullah kita bekerja itu membuat kita semakin bersyukur dan semakin dekat dengan Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai kewajiban kita kepada Allah kita abaikan.

Kelima, Malas bersedekah. Siapa pun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya pasti irit. Sebaliknya dengan sedekah akan bertambah berkah, penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Bahkan Allah menekankan betapa pentingnya bersedekah. Sedekah itu bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada tiap-tiap bulir itu akan terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Maha kaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Jika tertarik maka mari kita langgengkan amalan pada diri kita bahwa tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan dengan senang hati membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin. Walllahu’alam
Share:

2.12.2010

Apresiasi Rasulullah Pada Orang Bekerja



Dalam sejarah Islam, semua Nabi bekerja untuk kehidupannya. Ini untuk menunjukkan bahwa para nabi bukan Rabi atau Pendeta yang dicukupi kehidupannya dari umatnya.

”Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah di usahakannya”.(QS An-Najm [53]: 39)

Sehari-hari para Nabi giat bekerja. Ingat bagaimana kisah Musa AS yang bekerja pada Nabi Syuaib atau Nabi Daud sebagai pengrajin, Nabi Yusuf sebagi pengawas gudang, dan tak terkecuali Nabi junjungan kita Muhammad SAW yang menjadi pengembala maupun pedagang pada sebelum kenabian dan mengerjakan banyak pekerjaan kasar lain setelah masa kenabian.

Para Nabi diperintahkan Allah bekerja keras untuk memperoleh kehidupan yang baik. Dimana di balik pesan itu Allah mempunya misi bahwa betapapun mulia seorang Nabi, mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kehidupannya, sebagai contoh dan teladan terbaik bagi umatnya. Sebagaimana diketahui Rasulullah SAW memaknai bekerja bukanlah sekadar untuk mencari uang, kekayaan, dan kemuliaan duniawi semata. Namun lebih dari itu, Rasulullah SAW menempatkan bekerja sebagai wujud aktualisasi keimanan dan ketakwaan dalam koridor ibadah semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Bahkan Putri Nabi sendiri yaitu Fatimah az Zahra pernah suatu hari kehabisan gandum, sementara anak-anaknya butuh makan dan ada yang jatuh sakit. Sedang kondisi pada saat itu sepeserpun dia tidak memiliki uang . Pergilah Fatimah ke pemilik toko dan bertanya apakah ada pekerjaan yang bisa dia lakukan, maka didapatinya pekerjaan menumbuk gandum untuk dibuat roti dan hasilnya bisa untuk mencukupi makan hari itu bersama anaknya.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Ath-Thabrani, dikisahkan ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya,"Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya." Mendengar itu Rasul pun menjawab,"Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah" (HR Ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain juga diceritakan, suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa'ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. "Kenapa tanganmu?" tanya Rasul kepada Sa'ad. "Wahai Rasulullah," jawab Sa'ad,"Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku". Seketika itu beliau mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata,"Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka".

Inilah apresiasi yang Rasulullah SAW berikan kepada orang yang mau bekerja keras, gigih, dan semangat mencari rezeki di jalan Allah SWT. Beliau tidak melihat apa jenis pekerjaannya, asalkan halal, tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama, dan diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT. Juga Rasulullah tidak melihat siapa orangnya, sampai-sampai pada riwayat di atas manusia teragung ini rela mencium tangan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari yang melepuh lagi gosong tersebut.

Islam sendiri mengajarkan, untuk mendapatkan rezeki yang Allah SWT tebar di muka bumi ini, hendaklah tiap individu berusaha sekuat tenaga, sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Yang selanjutnya, hasilnya kita bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan artian pasrah diri tanpa usaha dan tidak bekerja, namun semampu mungkin potensi yang ada kita maksimalkan untuk meraih rezeki tersebut. Nabi Muhammad SAW, dalam salah satu hadisnya yang lain juga mengatakan,“Jika kalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang. ”

Hadis di atas pada dasarnya berisikan motivasi agar kita gigih bekerja, bahkan jika perlu meninggalkan tempat tinggal pagi hari untuk mencari nafkah, bukan sebaliknya pasrah berdiam diri di kediaman menunggu tersedianya kebutuhan hidup. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

(Aan, dari berbagai sumber)
Share:

12.10.2009

Fasilitas Pemakaman Mewah apakah Bermanfaat untuk Penghuninya ?



Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku! Anda pernah dengar pemakaman mewah yang dikembangkan oleh perusahaan Lippo Karawaci? Komplek pemakaman mewah itu diberi nama San Diego Hills Memorial Park And Funeral Homes (SDH). Konon, untuk mengembangkan komplek pemakaman itu, Lippo harus merogoh kocek dalam-dalam hingga mencapai 10 triliun. Mega Proyek ini "katanya" bertujuan merubah citra pemakaman, yang selama ini dikenal angker. Karenanya, komplek pemakaman ini dilengkapi dengan family center seperti danau seluas 8 hektare, kapel untuk upacara sebelum pemakaman, gedung pertemuan dengan kapasitas 250 kursi, restoran Italia, sarana olah raga seperti kolam renang, jogging track dan lain-lain. Pihak pengembang mengharapkan komplek pemakaman ini menjadi asri dan indah, sehingga dapat mejadi salah satu obyek wisata.

Benarkah dengan berbagai fasilitas mewah itu pemakaman dapat berubah menjadi asri dan indah, terlebih-lebih bagi para penghuninya?

Untuk dapat mengetahui jawabannya, anda haruslah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di alam kubur.

Saudaraku: Bila semasa hidup di dunia anda adalah orang yang beriman dan rajin beramal sholeh, maka setelah ruh anda berpisah dari raga, maka ruh anda akan di bawa ke langit menghadap kepada Allah.

حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِى تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِى فِى عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الأَرْضِ فَإِنِّى مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّىَ اللَّهُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِىَ الإِسْلاَمُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ . فَيَقُولاَنِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ . فَيُنَادِى مُنَادٍ فِى السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِى فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى الْجَنَّةِ - قَالَ - فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ - قَالَ - وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِى وَمَالِى.

Setibanya di langit dunia, maka para malaikat pembawa ruh orang mukmin akan memintakan izin untuknya agar dibukakan pintu langit. Setelah pintu langit dibukakan, maka serta merta para pemuka Malaikat yang menghuni langit dunia akan mengiringi ruh orang mukmin itu menuju ke langit selanjutnya. Demikianlah seterusnya hingga ruhnya tiba di langit ke tujuh. Setibanya ruh orang mukmin itu di langit ke tujuh, Allah Azza wa Jalla akan berfirman kepada para Malaikat: "Tuliskanlah catatan amal hamba-Ku di tempat yang tinggi nan mulia. Selanjutnya segera kembalikanlah ruhnya ke bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka, dan kepadanya Aku kembalikan mereka dan darinya pula Aku bangkitkan mereka. Maka ruh orang mukmin itupun dikembalikan ke jasadnya."

Setelah ruh kembali ke jasad, datanglah dua malaikat, yang akan mendudukkan orang mukmin itu. Dan setelah ia duduk, keduanya bertanya:

"Siapakah Tuhanmu?" Maka orang mukminpun menjawab: "Tuhanku adalah Allah."

Keduanya kembali bertanya: "Apakah agamamu?" Orang mukmin itupun menjawab: "Agamaku adalah Islam."

Keduanya kembali bertanya: "Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan di tengah-tengah umatmu?" Orang mukmin itupun kembali menjawab: "Dia adalah utusan Allah."

Keduanya kembali bertanya: "Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu?" Orang mukmin itupun menjawab: "Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya."

Setelah orang mukmin itu menjawab seluruh pertanyaan kedua malaikat itu, terdengar seruan dari langit: "Hamba-Ku telah menjawab dengar benar, maka hamparkanlah untuknya kasur dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu menuju ke surga." Sehingga orang mukmin itupun dapat merasakan hawa sejuk dan harumnya surga. Kuburannya diluaskan sejauh pandangan matanya. Selanjutnya akan datang seorang lelaki rupawan, berpakaian bagus, dan harum baunya yang berkata kepadanya: "Bergembiralah dengan sesuatu yang pasti menjadikanmu senang, ini adalah hari yang sebelumnya telah dijanjikan kepadamu."

Menyaksikan lelaki rupawan itu, orang mukmin itupun segera bertanya kepadanya: "Siapakah engkau, wajahmu menunjukkan engkau membawa kebaikan?"

Lelaki rupawan itupun menjawab: "Aku adalah amal sholehmu."

Mengetahui bahwa amal sholehnya telah diterima Allah: Orang mukmin itupun segera berdoa: "Wahai Tuhanku, segera bangkitkanlah hari kiamat, agar aku segera dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan harta kekayaanku."

***

Saudaraku, tentu anda bercita-cita untuk menjadi orang tersebut. Anda dapat menjawab pertanyaan kedua malaikat di alam kubur, sehingga mendapatkan kenikmatan kubur.

Akan tetapi andapun pasti menyadari siapakah sebenarnya jati diri anda? Benarkah anda adalah orang yang seperti disebutkan pada kisah di atas?

Coba sekali lagi anda membaca tanya jawab antara kedua malaikat dengan ruh di atas. Coba renungkan dengan baik tanya-jawab kedua malaikat dengan orang mukmin di atas: "Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu?" Orang mukmin itupun menjawab: "Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya."

Benarkah anda telah mengenal Allah, agama islam dan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam karena anda telah mempelajari Kitabullah? Ataukah anda mengenal ketiganya hanya karena terlahir di masyarakat Islam, sedangkan anda tidak bisa membaca Al Qur'an apalagi mengkaji makna dan kandungannya?

Ada baiknya bila saudaraku kembali berpikir! Darimanakah saya mengenal Allah, agama Islam dan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam? Benarkah saya telah mengenal ketiganya karena telah mempelajari Al Qur'an dan kemudian mengimani dan mengamalkan kandungannya?

Jangan-jangan selama ini saudara mengenal ketiganya hanya karena membeo apa kata orang lain! Anda mendengar orang berkata sesuatu tentang ketiganya, lalu andapun menirunya. Bila ini yang terjadi pada diri anda, maka simaklah apa yang akan anda alami di alam kubur:

حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلاَ يُفْتَحُ لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم .لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ. فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِى سِجِّينٍ فِى الأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحاً. ثُمَّ قَرَأَ :وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ. فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى.
وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْن، فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ. وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لاَ تُقِمِ السَّاعَةَ.

Sesampainya di langit dunia, para malaikat pembawa ruh orang kafir itu meminta izin agar pintu langit dibukakan untuknya, akan tetapi pintu langit tidak dibukakan untuknya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah:

لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

"Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga, hingga ada unta masuk ke dalam lubang jarum." (Qs. Al-A’raf: 40)

Saat itu Allah Azza wa Jalla berfirman: "Tuliskanlah catatan amal di Sijjin di bumi paling bawah." Kemudian ruh itu dicampakkan ke bumi dengan keras." Selanjutnya nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kembali membaca firman Allah Ta'ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka seolah-olah ia terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Qs. Al Hajj: 31)

Kemudian ruh orang kafir itu dikembalikan ke jasadnya. Setelah ruhnya kembali ke jasadnya, datanglah dua malaikat yang mendudukannya. Setelah ia duduk kedua malaikat itu bertanya kepadanya:

"Siapakah Tuhanmu?" Orang kafir itu kebingungan menjawabnya dan berkata: "Hah, hah, aku tidak tahu."

Kedua malaikat itu kembali bertanya: "Apakah agamamu?" Orang kafir itu kembali kebingungan menjawabnya dan berkata: "Hah, hah, aku tidak tahu."

Kedua malaikat itupun kembali bertanya: "Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan ditengah-tengah umatmu?" Kembali orang kafir itu kebingungan menjawabnya, dan lagi-lagi ia berkata: "Hah, hah, aku tidak tahu."
Dan pada sebagian riwayat orang kafir itu berkata: "Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain."

وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ

Mendengar jawaban orang kafir itu, kedua malaikat tersebut menghardiknya dengan berkata: "Engkau tidak tahu, dan tidak pula pernah membaca (belajar)?" Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi dengan sangat keras, sehingga iapun menjerit kesakitan. Begitu keras jeritannya, sampai-sampai dapat didengar oleh seluruh makhluk disekitarnya, kecuali jin dan manusia.

Selanjutnya, terdengarlah seruan dari langit: "Sungguh Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan untuknya kasur dari api neraka, bukakan untuknya pintu ke neraka." Maka iapun merasakan hawa panas dan bau busuk neraka. Bukan hanya itu, kuburannyapun disempitkan hingga tulang rusuknya tercerai-berai.

Setelah kuburannya menyempit, datanglah seorang lelaki yang buruk raut wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk bau badannya, seraya berkata: "Selamat menikmati sesuatu yang menyedihkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu." Orang kafir itu bertanya: "Gerangan, siapakah engkau? Wajahmu menandakan engkau membawa kesialan!" Lelaki itupun menjawab: "Aku adalah amal kejahatanmu." Karena menyesali perbuatannya, orang kafir itupun menyeru: "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat."

***

Kisah di atas saya sarikan dari gabungan riwayat imam Bukhari dan Ahmad.

Saudaraku! Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengisahkan bahwa penduduk Syam bila hewan ternak mereka ditimpa sakit perut, segera mereka membawanya ke pekuburan orang-orang yahudi, atau nasrani, atau Majusi, atau orang-orang munafik para pengikut aliran Ismailiyah atau kebatinan. Yang demikian itu dikarenakan para penghuni kuburan itu disiksa, sehingga mereka menjerit-jerit kesakitan:

إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا. متفق عليه

"Sesungguhnya penghuni kuburan (yang kafir atau jahat-pen) disiksa, dan siksanya itu dapat didengar oleh seluruh binatang ternak." (Muttafaqun 'alah)

Karena mendengar siksa penghuni kuburan itulah, hewan penduduk Syam menjadi ketakutan, dan akhirnya badannyapun menjadi panas, dan penyakit perutnyapun sirna. (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah 4/287)

Demikianlah kehidupan penduduk kubur wahai saudaraku! Karena begitu mengerikannya, sampai-sampai pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya:

فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ. رواه مسلم

"Andailah kalau bukan karena khawatir kalian akan enggan menguburkan saudara kalian yang meninggal dunia, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar ia memperdengarkan kepada kalian sebagian dari suara siksa alam kubur sebagaimana yang aku dengar." (Riwayat Muslim)

Saudaraku, coba kembali anda cermati jawaban orang kafir di atas terhadap pertanyan malaikat: "Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain."

Saudaraku! Karena dasar apakah anda beriman kepada Allah, beragama Islam dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad? Apakah saudara melakukan itu semua berdasarkan ilmu yang saudara peroleh dari mempelajari Al Qur'an, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan dengan ucapan orang tua dan masyarakat sekitar? Hanya anda yang mengetahui jawabannya.

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita semua dan juga karib kerabat kita termasuk dari orang-orang yang menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur sebagaimana yang diucapkan oleh orang pertama dan bukan yang diucapkan oleh orang kedua.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. آمين

"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dan azab neraka. Sebagaimana aku juga berlindung kepadamu dari godaan kehidupan dunia dan kematian serta dari godaan Al Masih Ad Dajjal." Amiin...

***

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Artikel www.pengusahamuslim.com

Share:

10.22.2009

Ayat Al Qur'an di Tubuh Bayi


dakwatuna.com – Rusia. Kisah ayat Al-Qur’an muncul di tubuh bayi masih menjadi perhatian serius di Rusia. Salah seorang ulama Rusia menganggap pemunculan ayat suci itu sebagai peringatan dari Tuhan.

“Kami menganggapnya sebagai peringatan untuk muslim Rusia dan Dagestan. Mereka harus menjalani perintah Allah, menyesali kesalahan-kesalahannya, dan melepaskan diri dari konflik dan perpecahan yang kini melanda Dagestan dan Caucasus,” kata seorang ulama, Akhmedpasha Amiralaev seperti dilansir The Sun.

Hingga kini logika maupun peralatan kedokteran memang belum mampu memecahkan misteri bocah Rusia tersebut.


Bocah ajaib yang mendapatkan ‘berkah’ itu adalah Ali Yakubov, bocah berumur 9 bulan. Ayat suci muncul di kulit Ali tidak lama setelah kelahirannya. Salah satu ayat yang muncul menyatakan ‘Allah adalah pencipta seluruh alam’. Uniknya lagi, petikan ayat suci ini hanya timbul setiap Senin dan Kamis malam.

Dilansir Interfax, Rabu (21/10/2009), mulanya orang tua Ali tidak memberitahukan kepada siapapun akan keajaiban si bayi. Tulisan Alquran pertama kali muncul di dagu Ali. Setelah dagu, ayat-ayat Alquran pun mulai terlihat pada punggung, lengan, kaki dan perut Ali.

Setelah berkali-kali terjadi, orang tua Ali akhirnya memutuskan memberitahukan keajaiban itu kepada dokter. Terlebih bila ayat-ayat itu muncul, Ali seperti kesakitan. “Ali selalu merasa tidak sehat ketika tanda itu muncul. Ia menangis dan suhu badannya meningkat,” ujar ibu Ali, Medina.

Saat ayat-ayat Alquran itu muncul di tubuh bayinya, Medina mengaku tidak mungkin menggendong Ali. “Badannya secara aktif bergerak, sehingga kami menaruhnya di tempat buaian. Sangat sulit melihatnya menderita,” ceritanya.

Ini Rekaman Videonya





Share:

9.17.2009

Sedihnya Ramadhan akan berakhir



Pembaca yang dirahmati Allah! Orang yang bahagia saat kedatangan tamu dan sedih saat tamunya pulang pasti mencintai si tamu. Sebaliknya orang yang sedih saat kedatangan tamu dan bahagia saat tamunya pulang, pasti tidak menyenangi si tamu.

Ramadhan sebentar lagi akan berakhir. Tamu Agung yang anugerahkan Allah bagi orang-orang yang beriman itu akan meninggalkan kita. Mudah-mudah Allah Swt. senantiasa membantu kita menata hati untuk selalu cenderung pada hidayahnya bukan malah berbangga saat kesempatan emas untuk memperbanyak amal telah usai.

Ramadhan memang akan berakhir tapi belum terakhir. Masih ada kesempatan untuk menambah amal. Lebih-lebih di sepuluh malam terakhir. Allah Swt. Memberikan bonus pahala besar-besaran pada salah satu malam di sepuluh malam terakhir. Malam itu adalah malam Qadar (lailatul qadr). Tentunya bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. Memperbanyak shalat, dzikir, tilawah, sedekah dan amalan-amalan lainnya.

Berakhirnya Ramadhan menjadi saksi atas amal-amal kita. Selamat bagi yang amalnya baik, yang amalnya itu akan menolongnya untuk masuk Surga dan bebas dari Neraka. Dan celaka bagi orang yang buruk amalnya lantaran kelengahan dan menyia-nyiakan waktu Ramadhan. Maka perpisahan dengan Ramadhan hendaknya diakhiri dengan kebaikan, karena ketentuan amal itu pada pungkasannya. Barangsiapa berbuat baik di bulan Ramadhan hendaklah menyempurnakan kebaikannya, dan barangsiapa berbuat jahat hendaklah ia bertobat dan menjalankan kebaikan pada sisa-sisa umurnya. Barangkali tidak akan menjumpai lagi hari-hari Ramadhan setelah tahun ini. Maka hendaklah diakhiri dengan kebaikan dan senantiasa melanjutkan perbuatan baik yang telah dilakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Karena Rabb yang memiliki bulan-bulan itu hanyalah satu, dan Dia mengawasimu dan menyaksikanmu. Dan Dia memerintahkanmu untuk taat selama hidupmu.

Barangsiapa menyembah Ramadhan maka sesungguhnya bulan Ramadhan ini telah akan habis dan lewat. Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, tidak mati. Maka teruskanlah beribadah padaNya dalam segala waktu. Sebagian orang beribadah di bulan Ramadhan secara khusus. Mereka menjaga shalat-shalatnya di masjid-masjid, memperbanyak baca Al-Quran, dan menyedekahkan hartanya. Lalu ketika Ramadhan usai, mereka bermalas-malasan, kadang-kadang mereka meninggalkan shalat Jum’at dan tidak berjama’ah. Mereka itu telah merusak apa yang telah mereka bangun sendiri, dan menghancurkan apa yang mereka bina. Seakan-akan mereka menyangka, ketekunannya di bulan Ramadhan itu bisa menghapuskan dosa dan kesalahannya selama setahun. Juga mereka anggap bisa menghapus dosa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan dosa melanggar hal-hal yang haram. Mereka tidak menyadari bahwa penghapusan dosa karena berbuat kebaikan di bulan Ramadhan dan lainnya itu hanyalah terhadap dosa-dosa kecil dan itupun terikat dengan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar.

Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).” (An-Nisaa’: 31).

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, artinya: “Shalat lima waktu, Jum’at sampai dengan Jum’at berikutnya, dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi diantara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan. “(HR. Muslim).

Dosa besar mana selain syirik (menyekutukan Allah Ta’ala) yang lebih besar daripada meninggalkan shalat? Tetapi meninggalkan shalat itu sudah menjadi kebiasaan yang lumrah bagi sebagian orang. Ketekunan mereka di bulan Ramadhan tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka jikalau mereka melanjutkannya dengan kemaksiatan-kemaksiatan berupa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melanggar larangan-larangan Allah Ta’ala. Sebagian ulama ditanya tentang kaum yang tekun ibadah di bulan Ramadhan, tetapi setelah usai, mereka meninggalkannya dan berbuat buruk. Maka dijawab: Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Ya, benar. Karena orang yang mengenal Allah tentunya ia akan takut padaNya setiap waktu (bukan hanya di bulan Ramadhan).

Bila bukan karena kesadaran Sebagian orang kadang berpuasa Ramadhan dan menampakkan kebaikan serta meninggalkan maksiat, namun itu semua bukan karena keimanan dan kesadaran. Mereka mengerjakan itu hanyalah dalam rangka basa-basi dan ikut-ikutan. Karena hal ini terhitung sebagai tradisi masyarakat. Perbuatan ini adalah kemunafikan besar, karena orang-orang munafik memang pamer kepada manusia dengan menampak-nampakkan ibadahnya. Orang-orang munafik itu menganggap bulan Ramadhan ini sebagai penjara, sementara yang ditunggu adalah usainya, untuk berkiprah dalam kemaksiatan dan perbuatan perbuatan haram, bergembira ria dengan usainya Ramadhan lantaran bebasnya dari kungkungan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:“Telah masuk pada kalian bulan kalian ini,” kata Abu Hurairah dengan menirukan dawuh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “tidak ada bulan yang melewati Muslimin yang lebih baik bagi mereka daripadanya, dan tidak ada bulan yang melewati orang-orang munafik yang lebih buruk bagi mereka daripadanya,” kata Abu Hurairah dengan menirukan dawuh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam., “Sesungguhnya Allah pasti akan menulis pahalanya dan sunat-sunnatnya sebelum (mukmin)memasukinya (bulan Ramadhan itu), dan akan menulis dosanya dan celakanya sebelum (munafik) memasukinya. Hal itu karena orang mukmin menyediakan makanan dan nafakah/belanja di bulan itu untuk ibadah kepada Allah, dan orang munafik bersiap-siap di bulan itu karena membuntuti kelalaian-kelalaian mukminin dan membuntuti aurat-aurat (rahasia-rahasia) mereka, maka dia (munafik) memperoleh jarahan yang diperoleh orang mukmin.” (HR. Ahmad dan lbnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan Abi Hurairah).

Kegembiraan mukminin beda dengan munafikin. Orang mukmin bergembira dengan selesainya Ramadhan karena telah memanfaatkan bulan itu untuk ibadah dan taat, maka dia mengharap pahala dan keutamaannya. Sedang orang munafik bergembira dengan selesainya bulan itu karena akan berangkat untuk bermaksiat dan mengikuti syahwat yang selama Ramadhan itu telah terkungkung.

Oleh karena itu orang mukmin melanjutkan kegiatan setelah bulan Ramadhan dengan istighfar, takbir dan ibadah, namun orang munafik melanjutkannya dengan maksiat-maksiat, hura-hura, pesta-pesta musik dan nyanyian karena girang dengan berpisahnya Ramadhan dari mereka. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, dan berpisahlah dengan Ramadhanmu dengan taubat dan istighfar.

Menutup Ramadhan

Wahai hamba Allah, termasuk hal yang disyari’atkan Allah dalam menutup Ramadhan yang diberkahi itu adalah shalat led dan membayar zakat fitrah sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas telah ditunaikannya kewajiban puasa. Sebagaimana Allah mensyari’atkan shalat Iedul Adha sebagai tanda syukur kepada-Nya atas penunaian kewajiban ibadah haji. Keduanya adalah Hari Raya Islam. Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau ketika datang di Madinah penduduknya mempunyai dua hari yang mereka itu bermain-main di hari itu, beliau bersabda:
“Sungguh Allah telah mengganti untuk kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik daripada keduanya, (yaitu) hari (raya) kurban dan hari (raya) fitri.”
Maka tidak boleh menambahi dua hari raya ini dengan mengadakan hari-hari raya baru yang lain. Hari raya dalam Islam itu disebut ied (kembali) karena dia it kembali dan berulang-ulang lagi setiap tahun dengan kegembiraan dan kesenangan, karena karunia yang telah Allah mudahkan berupa pelaksanaan ibadah puasa dan haji, yang keduanya itu adalah termasuk rukun Islam.

Dan karena Allah mengembalikan pada dua hari raya itu atas hambanya dengan kebaikan, dan membebaskan dari api Neraka. Sungguh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah memerintahkan khalayak umum, sampai wanita-wanita sekalipun, agar keluar untuk shalat ied. Kaum wanita disunnahkan menghadirinya tanpa pakai wewangian, tidak berpakaian dengan pakaian biasa dan pakaian yang menarik perhatian, dan tidak bercampur aduk dengan lelaki. Sedang wanita yang sedang haidh agar keluar untuk menghadiri da’wah (khutbah) dan dilarang mendirikan shalat.

Keluar untuk shalat ied itu adalah menampakkan syiar Islam dan menjadi suatu pertanda yang nyata, maka bersemangatlah untuk menghadirinya wahai orang yang dirahmati Allah. Karena sesungguhnya ied itu termasuk kesempurnaan hukum-hukum pada bulan yang diberkahi ini. Upayakanlah betul-betul untuk khusyu’, menjaga pandangan dan dari yang haram. Hendaklah menjaga lisan dan omong kosong, porno, dan bohong. Juga jagalah pendengaran dan mendengarkan perkataan yang tak karuan, nyanyian nyanyian, musik, dan mendatangi pesta-pesta, hura-hura dan permainan yang diadakan oleh sebagian orang bodoh. Karena seharusnya ketaatan itu diikuti dengan ketaatan pula, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu Nabi mensyari’atkan bagi ummatnya untuk menyambung puasa Ramadhan itu dengan puasa sunnat 6 hari di bulan Syawwal. Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan diikuti dengan (puasa sunnah) enam hari dari Bulan Syawwal maka seakan-akan ia berpuasa setahun.” (HR. Muslim).
Share:

9.07.2009

Maha KasihNYA ALLAH


Syaikh Abu Bakar Ad-Dharir bercerita, Bapakku termasuk orang miskin, dia berdagang bejana dari tanah liat. Aku mempunyai kakak perempuan. Aku sendiri buta.

Suatu malam aku terbangun, karena aku mendengar Bapakku berkata kepada Ibu, "Aku sudah tua, kamu juga, kamu tua dan lemah. Apa yang jauh dari kita telah dekat." Kemudian bapak bersyair,

Sesungguhnya seseorang yang berumur lima puluh tahun berarti dia telah mendekati sumur kematiannya.

Bapakku melanjutkan, "Anak perempuan kita, dia hidup sehat bisa membantu orang - orang. Tetapi bocah laki-laki kita ini, dia buta, tak ubahnya seperti seonggok daging. Kira-kira apa yang bisa dilakukannya."

Kemudian kudengar keduanya menangis. Keduanya terus menangis di malam itu dalam waktu yang cukup lama. Hatiku sangat sedih mendengarnya.

Pagi hari seperti biasa aku pergi ke halaqah. Tidak lama berselang seorang pesuruh khalifah datang dan berkata kepada ustadzku, "Ibu Permaisuri menyampaikan salam kepada ustadz, Beliau berkata, 'Bulan Ramadhan telah tiba. Aku menginginkan seorang bocah laki-laki yang belum baligh, bacaannya bagus, suaranya merdu, sebagai Imam shalat Tarawih."

Ustadz menjawab, "Bocah yang diinginkan Permaisuri memang ada pada kami namun dia seorang yang buta." Tak lama kemudian Ustadz memintaku pergi bersamanya. Utusan itu menuntunku. Kami berjalan sehingga kami sampai di rumah yang dituju. Dia meminta izin, maka Ibu Permaisuri memberi izin kepadaku untuk masuk. Aku masuk dan memberi salam. Aku mulai membaca. Aku membaca, Bismillahir Rahmanir Rahim, Ibu Permaisuri menangis. Aku meneruskan bacaan, tangisan Ibu Permaisuri makin bertambah.

Ibu Permaisuri berkata, "Aku belum pernah sekalipun mendengar bacaan seperti ini." Hatiku tersentuh, aku pun menangis. Dia bertanya mengapa aku menangis. Lalu aku ceritakan apa yang aku dengar dari Bapakku. Ibu Permaisuri berkata kepadaku, "Wahai anakku kamu akan mendapatkan apa yang tidak disangka-sangka oleh Bapakmu."

Ibu Permaisuri memberiku seribu dinar, dan dia berkata, "Ini untuk modal dagang Bapakmu dan untuk persediaan kakak perempuanmu. Aku telah memerintahkan abdiku untuk menyediakan gaji untukmu tiga puluh dinar setiap bulan." Di samping itu Ibu memberiku pakaian dan kendaraan yang bagus dengan pelana yang berhias.

Demikianlah cara Allah menyenangkan hati dan membagi rizky bagi hambaNYA yang lemah.

Dari Makarim al-Akhlak, Ali Shalih al-Hazza`
(Izzudin Karimi)

Share:

Takut akan tidak Halalnya sebuah apel


Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Wahai Tuan.. tolonglah diriku ini. Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimanakah gerangan rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim tetap bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Karena aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka."

Segera Tsabit pergi ke rumah pemilik kebun itu, perjalanan semalaman ditempuhnya dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia bertanya, "Apakah hanya karena aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan kata-katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Karena Tsabit sangat berharap kehalalan buah apel yang terlanjur dimakannya, Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhoiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan kebaikanku di sisi Allah Ta'ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum ?."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Mengapa ayahnya berkata kalau dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Selain itu Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh, tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir apa alasan ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Duhai istri jalinan hidupku, Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan oleh Allah". Lalu Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?" Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridho Allah. Apakah Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata lagi, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".

Perasaan Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan termasuk salah seorang wanita yang memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dan yang membuatnya lebih bangga dan bahagia lagi tentang istrinya, "Ketika membuka tirai yang menutupi wajah istrinya, dan Subhanallah… dia melihat wajah istrinya bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Dialah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.

Dudung.net
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Powered By Blogger

Slider

Hit Counter